Kopi Bukan Luwak, RM Jadul Di Jogja yang Keren

Bila kita jalan-jalan ke luar  kota — selain destinasi wisata — apalagi sih yang membuatmu keranjingan?  Yaa betul, kuliner jadi hal yang menarik untuk kita eksplor. Istilahnya, jalan-jalan akan terasa garing bila tak dibarengi wisata kuliner. Betul kan?

Nah kali ini saya akan cerita tentang Jogja.dan kulinernya. Saya sering menyebut Jogja kota penuh rindu. Teman-teman jalan saya tahu itu. Entah kenapa berkali-kali saya ke kota Gudeg ini tapi tak ada kata bosan menyeruak. Kota yang tak pernah tidur ini selalu menyodorkan semua yang istimewa. Spesial kota dan yang pasti kulinernya asik-asik. Selain oke cita rasanya, harga kulinernya pun  tak membuat kantong bolong apalagi melompong. Hehe ..

Di kota Jogja ini saya berburu tempat  makan siang yang unik. Alhamdulillah saya menemukan sebuah rumah makan yang sangat adem. Bangunannya Joglo dengan pernik-pernik jadulnya yang menarik. Eksterior dan interiornya oke pasti menambah nilai plus ketradisionalannya. Tampak di teras terlihat kursi kuno, sepeda onthel juga lesung tempat menumbuk padi. Wah suasana  seperti ini yang membuat saya demen pake banget.

– Tampak depan RM Kopi Bukan Iwak (dok.pri)

Add caption

Masuk ke bagian dalam tak jauh beda. Semua furnitur yaa ampuun…mengingatkan masa-masa kecil saya. Dipan tua, pawon beserta perkakas ndeso yang luar biasa mengaduk-aduk hatiku. Masih speechless dan terkagum-kagum,  saya dipersilahkan ke bagian kanan rumah utama. Kaki ini melangkah  menuju pawon atau dapur untuk mengambil makanan secara self-service.

 

Banyak menu yang terhidang disebuah meja kayu pendek. Meja jadul dan kelihatan seperti meja di kampung-kampung.  Tak ada perkakas yang berbau modern. Di meja kayu tanpa taplak terhidang sayur asem, botok, tempe, mangut lele dan masakan lain. Makanan tersebut diletakan pada wadah tradisional pula. Proses memasaknya juga masih di pawon  berbahan bakar kayu. Kereenn ..

 

Sungguh sangat terkesan makan siang di Rumah Makan Kopi bukan Luwak. Rumah makan ala-ala ndeso ini  berlokasi di jln Kaliurang km 16 Kledokan, Pakem, Jogja. Kalian juga sering ke Jogja kan? Mampirlah kalau pas lewat.

Dua hari berada di Jogja sepertinya tak akan cukup waktu untuk mengubek-ubek wisata kulinernya. Tiba saat makan malam, saya mencoba kuliner ayam Ingkung Kuali yang berada  di Kalakijo Bantul. Lokasinya yang berada di tengah perkampungan, membuat saya kudu bolak balik bertanya. Yah namanya pengen jadi meski malam tak menghalangi untuk berburu makanan. Begitu tiba dilokasi saya mendapatkan surprise yang luar biasa dan berasa woww…

 

Rumah makan Ingkung Kuali bentuknya sangat artistik. Didesain sederhana, unik dan berbeda.  Rumah makan ini dibangun tanpa tembok. Sebagai gantinya adalah pilahan bambu yang tertata rapi membentuk satu bangunan yang cukup luas. Ornamenpun bernilai seni dan kreatif dengan “kurungan” ayam sebagai hiasan pelengkap lampu diatas.

 

Namanya juga Ingkung Kuali jadi menu makan malam saya ya ayam kampung utuh. Berbumbu khas tradisional dilengkapi santan kental terpisah. Kemudian santan dibalurkan ke ayam saat saya akan menyantapnya. Terasa nikmat bila dilengkapi dengan sambal dan aneka lalapan.

Sebagai penutup saya minum wedang Uwuh. Minuman tradisional ini dari bahan campuran jahe, rempah dan akar-akaran. Meminum wedang uwuh dipercaya bisa menghangatkan badan dan mengembalikan stamina tubuh. Sangat cocok untuk saya, mengingat sehari penuh lelah mengunjungi tempat-tempat cantik di Jogja.

Kalian penasaran dengan rumah makan bernuansa etnik Jawa jaman dulu? Atau ingin kongkow di rumah makan berhias “kurungan” bambu? Jawabnya: berkunjunglah ke Jogja, kota yang menyimpan sejuta rasa rindu…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *