Kisah di Balik Layar
Dulu — jaman masih muda, aku tidak pernah punya keinginan untuk mendaki gunung. Membayangkan pun tidak pernah, apalagi bermimpi. Udah ketahuan, pasti bakal capek banget kalau naik gunung.
Sampai suatu ketika seorang dokter mendiagnosa aku suatu gejala penyakit. Salah satu penyembuhannya, menurut dokter yang tinggal di Makassar, harus therapi jalan kaki. Pas itu sekitar tahun 1991 atau 1992…
Karena niat ingin sembuh, aku mengikuti saran dokter senior tersebut. Awalnya berat untuk jalan kaki 1 km, tapi karena ingin sembuh jadi dinikmati aja. Besoknya lagi jalan kakinya dilebihin dikit dari 1 km, lusa juga n seterusnya. Sampai tak terasa waktu kontrol pun tiba.
Dokter Kepo Aktivitasku
Suatu sore saat kontrol, sang dokter bertanya tentang aktivitasku selain sebagai mahasiswa. Akupun dengan senang hati menjelaskan kegiatanku. Saat aku bilang tiap hari harus ke lantai 6 gedung rektorat di kampusku, tak dinyana komentar dokter bikin aku tak tahan. Ingin nangis!
“Lebih baik lagi kalau kamu ke lantai 6 jangan pakai lift. Tapi lewat tangga ya. Itu bisa membuatmu lebih sehat lagi,” kata dokter.
Aku yang mendengar itu jadi meringis dong. Masa setiap hari nongkrongku di lantai 6 disuruh naik tangga? Padahal bisa 2-3 kali lho ke tempat ngumpul anak-anak Identitas. Nah di ruangan itu biasa berkumpul teman-teman dari lintas fakultas yang mengelola penerbitan kampus. Dulu sih masuk bagian dari humas.
Di depan dokter aku iya-iyain aja. Tapi atas nama ingin bebas dari sakit, aku menuruti apa kata dokter. Bulan depannya ketika kontrol lagi, aku malah dikasih tantangan baru lagi. Waduh dokter ampun deh…ampuun…
Kali ini dokter menyarankan untuk jalan di tanah dataran tinggi. Maksud dokter apa ya? Kan udah tiap hari naik tangga ke lantai 6. Duh dokter ada-ada aja dehhh…
Dokter bilang, sekarang jalan ke tanah yang tinggi, boleh bukit atau gunung. What???
“Dok kan udah jalan ke lantai 6 tiap hari. Masak sekarang naik bukit atau gunung. Beratt dokk, ” ucapku. Dokter terkekeh.
“Kalau mau hilang sama sekali penyakitmu, jalankan tanpa kata tapi ya anak muda. Semangat…jalani aja. Sampai ketemu bulan depan”, kata pak dokter yang tak memberi aku untuk berargumentasi.
Demi Bebas dari Sakit
Akhirnya demi kesembuhan total aku niatkan deh untuk jalan menanjak. Entah nanjak kemana hehe … Pasti ini butuh tenaga ekstra dan bikin capek. Ya Allah ingin sembuh dari sakit pun perjuangannya segitu amat ya …
Nah kebetulan sebagai anak Identitas banyak teman dari berbagai fakultas dan juga kenal teman-teman UKM. Terkait nanjak2 ada temanku dari UKM Mapala. Ntah gimana ceritanya aku lupa, akhirnya sepakat melepas akhir tahun 1993 di Lembah Ramma. Ini pos berapa ya dari Gunung Bawakaraeng, aku lupa…
Nggak muncak sih, cuma di pos berapa aku nggak tahu. Ada dataran indah di dalam hutan. Kami ngecamp di situ. Lumayan lelah tapi melihat keindahan alam dan rimbunan hutan sepanjang jalan, lelah itu sirna.
Ternyata ya Allah bener banget kata dokter, nanjak pertama kali meski lelah tapi berkesan. Bisa lihat langit di ketinggian dan bisa memuja ciptaanMU. Yang bikin aku bahagia, ternyata sirna juga sakitku.
Aku tahunya pas kontrol berikutnya, kata dokter, sembuh mi sakitmu. Alhmdulillah terima kasih ya Allah, terima kasih dokter. Kalau aku nggak ngikutin saran dokter mungkin sampai sekarang sakit itu masih bercokol.
Ketagihan Nanjak
…Dan meski capek dan lelah, ternyata nanjak bikin nagih. Ya Allah…tahun-tahun berikutnya setiap ada waktu dan ada yang ngajak, aku insha allah ikut. Terutama yang sering sama mba Titi S Soeparno RM (Rainbow Moms) dkk…makasih ya udah dicolek-colek kalau ada acara nanjak…
Begitulah ceritaku mengalir…nanjak karena terpaksa mengikuti saran dokter biar sembuh ehhh ujung-ujungnya keterusan…
Kalau ada yang tanya kenapa suka nanjak, ya jawabnya buat kesehatan mata, hati, tubuh dan mental juga. Pastinya keindahan selama perjalanan nanjak bisa membuat kita bersyukur atas nikmat-Nya…
Oya pas aku ke Makassar lagi, kucari rumah dokter itu nggak ketemu. Mau mengucapkan makasih atas supportnya. Aku yakin kalau tidak disuruh jalan kaki, naik tangga dan naik bukit atau gunung, mungkin aku tak pernah nanjak…
#penggalanceritalama1
