S.16: Kisah Antara Kunci dan Durian (part 2)

Maret 18, 2019 Add Comment
Pak Kom mengeksekusi durian (dok.pri)


Mengingatkan di bagian 1, kami sudah menghabiskan semua yang terhidang seperti durian, singkong dan kacang rebus serta 1 poci sedang teh hangat. Mau apa lagi coba?  Alhamdulillah, nikmatnya sudah kami rasakan dan syukuri.  Makasih ya Mas Helsom,  Pak Kom,  Mas Adam, Mas Maul dkk..
Kekenyangan durian (dok.pri)

Sementara hujan yang sedari tadi mengucur, perlahan berdamai dengan kami. Saatnya untuk pulang menyusuri jalan yang lumayan asoy. Saking asoy nya sampai mb Tarie Koe mengalami sedikit nyungsep. Tergelincir hingga motor terjatuh. Namun beruntung motor bisa mb Tari kuasai. Jadi seperti itung-itungan latihan off road. Hehe... Emak ada yang demen off road?

Karena jalan lumayan licin karena tersiram air hujan, membuat saya dan Mba Nissa berjalan dari makam sampai jalan beton. Lumayan jaraknya sekitar 500 meter dengan jalan berbatu dan licin. Alih-alih pemanasan kaki sebelum saya ngebolang ke tempat lainnya. Hehe...

Kunci Asli yang Terselip

Perjalanan menuju Malang, Alhamdulillah lancar meski di titik tertentu ada macet. Maklum weekend mah biasa yaa? Akhirnya sampai juga di base camp Local Guide setelah berkendara selama 45 menit. Saya dan Mba Tari tak langsung  pulang, tapi ngobrol-ngobrol sebentar dilanjut pulang. Sebenarnya ingin belajar tentang penentuan titik ordinat suatu tempat dalam local guide, karena saya masih punya acara lagi di Matos ya tertunda. Saya dan Mba Tari berpisah di jalan Ciliwung, makasih ya mba udah kasih tumpangan. 😍😍😍
Bukan kunci sebenarnya (dok.pri)

Menuju rumah saya naik grab. Tapi sepanjang perjalanan masih kepikiran sama kunci yang gak bisa buat on. Tiba di rumah seperti ada yang menuntun untuk membuka tas dan saya temukan sebuah kunci mirip sekali sama yang saya titipkan ke Mas Cahyo Wi . Sebuah kunci bertali, beranak kunci juga.

Mak deggg...jangan-jangan...? Jadi ingat saat di rumah alm Pak Tarub saya mau ngecek kunci di motor,  pas kami semua  mau ke rumah bagian belakang. Tetiba Mb Nissa bilang dan menyodorkan kunci bertali dan beranak kunci. Yakin tanpa melihat  kunci motor itu langsung saya masukkan ke dalam tas... ( nih jangan dicontoh, gak ngecek dulu, hihi)

Lha pas mau pulang kok malah gak bisa dipakai itu kunci.Heran, malah Mas Bos Bambang Afrianto dan Mas Ici Bram sampai turun tangan. Haha...

Balik lagi, terus yang di dalam tas sekarang kunci siapa? Dirunut ketahuanlah akhirnya, yang ditinggal di Mas Cahyo itu kunci motor yang di meja punya alm Pak Tarub. Sedang yang di tas itu kunci motor yang asli. Hahaha...
Ketemu luncinya (dok.pri)

Jadi karena memang makai motor ade dan juga kunci mirip-mirip, saya membuat bingung semua rekan-rekan. Maafkan yaa...
Intinya salah kunci karena teledor tak mengecek kunci. Tapi bisa jadi karena saya  lupa telah memasukkan kunci yang asli di tas.

Sesudah mengambil motor, saya juga mampir ke rumah Bu Tarub untuk mengembalikan kunci motornya. Jadi pengalaman bahwa sesuatu harus teliti sebelum memakai. Wkkkwkk...atau semua karena faktor U? Ohhhh Noooo....😂😂😂

#Setip
#SetipEstrilookCommunity

S.15: Kisah Antara Kunci dan Durian (Part 1)

Maret 18, 2019 Add Comment
Jabung Malang (dok.pri)

Suatu pagi saya bersama suami dan adek menembus derasnya hujan menuju Ngadirejo Jabung Kab Malang. Tepatnya ke rumah mas Cahyo Wi. Saya mengajak mereka berdua untuk mengambil motor yang saya titipkan di rumah Mas Cahyo. Mogok?  Kemarin kami menganggapnya begitu. Tapi sebenarnya motor dalam keadaan baik-baik saja.  Tidak seperti yang kami duga.

Jadi melas lihat Mas Yudi yang menuntun motor itu dari rumah alm Pak Tarub ke rumah Mas Cahyo.  Betul jaraknya gak sampai 100 meter.  Tapi karena jalannya naik turun, jadi ya rada lumayan menghabiskan tenaga.  Maafkan saya ya mas, semua karena "keteledoran" saya. Makk... kalau merasa punya salah suka minta maaf gak?

Berawal Dari Niat Takziah

Ceritanya kemarin dulu kami ber-8 takziah ke rumah alm penemu Coban Jodo.  Nah saya yang agak kesusu nyaut motor adek. Tapi sebelum berangkat udah tanya,  ni motor ada macem-macemnya gak ya? Maksudnya seperti kunci rahasia dll.  Kata suami ada, tapi di-off kan. Syukurlah, saya paling kuatir kalau naik motor ada kunci rahasia-rahasia segala. Takut di tengah jalan ada macet-macetnya. Hehe...

Meeting point disepakati di POM Bensin depan tugu pesawat menuju Bandara Abdurrahman Saleh.  Karena macet di wilayah Madyopuro,  jalan agak tersendat saya agak telat dari jam yang disepakati. Alhasil sesampai di POM ternyata rombongan mas bos Bambang Afrianto, mba bos Nissa, mb Tarie Koe, mba Siwi sudah jalan pelan-pelan.  Akhirnya saya sampai di rumah alm Pak Tarub,  selang 4 menit setelah rombongan tiba. Lumayan ngebut saya...

Setelah mengucap bela sungkawa, ngobrol serta menikmati suguhan kami pamit.  Rencana mumpung di Jabung, jadi niatan untuk berburu durian.  Secara di wilayah Jabung banyak pohon duren dan tengah masa panen. Orang Jawa bilang iras-irus yang artinya sekalian melakukan suatu kegiatan karena ada kegiatan lainnya.

Bergegas kami menuju motor masing-masing.  Ehh... saat saya memasukkan kontak kok gak bisa on yaa? Waduh dalam hati ni pasti pengaman nge-on lagi, padahal pas brangkat sudah di-off kan.  Akhirnya  Mas Bambang dan Mas Yudi ikut membantu. Tapi gak bisa juga.  Akhirnya kesepakatan motor ditinggal di rumah Mas Cahyo.

Tentang rencana berburu durian masak pohon tetap berlanjut dong.  Secara kata Mba Tari, penciumannya sejak masuk Ngadirejo hanya aroma durian yang tercium. Padahal menurutku nggak.  Hehe...mungkin karena Mba Tari sejak berangkat dari rumah fokusnya sama duren beneran,  bukan duren duda keren lho...wkwkwk...

Takziah Berlanjut Pesta Duren

Sepakat setelah muter di Ngadirejo gak dapat durian yang cucok,  kami bergeser ke Coban Jahe. Dua hari lalu saya dari Coban Jahe dapat durian wuenyakk. Usul saya mending ke Coban itu diterima. Kami pun segera menuju ke tekape tapi sebelumnya calling Mas Helsom.
Ini durian (dok.pri)

Usai ber-off road ria menuju Coban Jahe, setiba disana kami langsung menuju kafe Indiana Camp.  Pastilah lewat jembatan baru yang pernah saya tuliskan di blog beberapa hari lalu
. Tapi kali ini saya kudu ketawa ngakak. Seorang Mba Tari yang suka mbolang kemana-mana,  sampai semua coban sudah dijelajahnya, ternyata takut sama jembatan.  Uhuyyy...

Entah kenapa  dia gak mau cerita.  Pastinya saat menyebrang jembatan,  saya tuntun dan saya suruh pejamkan mata.  Hihi... Jadilah seorang emak  menuntun Mba Tari yang wow itu sesuatuh yaa... Hahaha... Tangannya duinginnn banget menahan rasa takut.

Nah tak lama menunggu di kafe,  Mas Helsom terlihat menenteng 7 buah durian. Langsung deh kami eksekusi.  Hmmm duriannya manis,  legit dan lezat lah.  Kemarin sih ada 2 macam durian yang kuning rasanya manis ada pahitnya sedikit. Sedangkan durian putih rasanya gurih manis seperti ada milk-nya. Wuihh pokoknya kami seperti mendhem durian. Hehe...
Durian Coban Jahe (dok.pri)

Sebagai penetralisir (kata mas Ici Bram alias Mas Yudi) kudu makan singkong. Eh kok ya rejeki sama Mas Helsom  kami disuguhi singkong dan kacang rebus.  Wahh pendek kata siang temaram karena hujan di Kafe Indiana Camp jadi nikmat sekli.

Si krucil Thalitha dan Brahma asikk guyon,  Mas Bos Brian terkantuk-kantuk dan Mba Bos Nissa asik jeprat jepret. Yang lainnya termasuk saya menggedabrus... Hehehe...

Lha cerita tentang kunci gimana? Ternyata belum tersambung..ntar, sabar ya... Tunggu lanjutan ceritanya,  bentar lagiii... Penasaran?  Wait ya...

#Setip
#SetipEstrilookCommunity

S.14: Pengalaman Naik Pesawat: Antara Geregetan, Pasrah dan Deg-degan

Maret 13, 2019 46 Comments
(pixabay)

Beberapa tahun lalu, saya memenuhi target penjualan di sebuah perusahaan produk fashion. Bisa ditebak, pasti ada reward dan fasilitas lain yang saya peroleh. Saya ingat betul saat itu dapat tiket jalan-jalan ke Malaysia plus akomodasi dari Malang - Jakarta - Malaysia. Rasanya seneng banget ya mak  bisa ke Luar Negeri. Hihi norak yaa, maklum baru pertama kali pergi jauh ke LN. Gratis pula. Siapa yang gak syukaaa?

Dalam waktu yang hampir bersamaan, saya juga memenuhi target program lainnya dan rewardnya bisa mengikuti Summit Meeting tahunan di Bali. Wah sesuatu banget. Jadualnya oleh perusahaan ditiming setelah kami selesai dari Malaysia. Jadi beruntun, hampir dalam sepuluh hari saya naik pesawat dari Surabaya - Jakarta - Malaysia - Jakarta - Bali - Surabaya. Sampai terasa mabok udara, wkkkwkk...

Perjalanan Panjang Dengan Pesawat

Dari Surabaya saya terbang menggunakan maskapai Lion, saat itu lancar sih meski sempat delay 1 jam saja (kesel dikit, hehe). Setelah ngumpul di kantor yang lokasinya di Tebet Jakarta Selatan, kami menginap di hotel (lupa hotel apa). Baru keesokan harinya kami dijemput menuju ke Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Usai menyelesaikan urusan tiket, nimbang bawaan (jaman dulu masih ribet) atau cek in kami segera boarding. Siang itu kami terbang menggunakan Maskapai Air Asia. Berbeda dengan sebelumnya,  terbang dengan pesawat ini terasa beda. Selain jadwalnya on time, juga saat take off pesawat pun terasa lebih lembut. Nyantai dan mulus tanpa suara gludhug-gludhug seperti saat waktu terbang dari Surabaya ke Jakarta. Pun begitu saat landing di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Perjalanan bersama Air Asia lancar dan nyaman.
Bandara Soekarno Hatta (dok.pri)

Di Malaysia kami mengunjungi beberapa tempat seperti Batu Cave, Menara Kembar Petronas, Pusat Perbelanjaan Sungai Wang, komplek istana Kerajaan dan juga Genting. Tentu saja perjalanan kami menyenangkan karena itinerary nya terencana didampingi oleh seorang guide lokal asal Malaysia.
Menara Kembar Petronas (dok.pri)

Puas jejalan di negeri jiran selama 4D3N, kami kembali ke Indonesia menuju Jakarta. Saat kembali ke tanah air, terbangnya bersama Maskapai Air Asia lagi. Nyaman dan tepat waktu serta pelayanan yang oke. Kami tentu saja gak bisa milih pakai pesawat apa, karena pembelian tiket diurus kantor. Saya dan lainnya hanya mem-fax dokumen seperti KTP, NPWP dan pasport saja. Hehe namanya juga gratis ya makk, jadi ikut prosedur kantor pusat saja.
Batu Cafe Malaysia (dok.pri)

Tiba  di Jakarta tepatnya di bandara,  rekan-rekan lainnya dari seluruh Indonesia telah berkumpul. Kami semua bersiap untuk menghadiri summit meeting di Bali. Jadi cuma mendarat sekitar 2 jam, kemudian saya harus terbang lagi menuju Bali. Kali ini pakai maskapai Lion Air. Dan setiap naik Lion bawaannya suka molor (geregetan ya mak). Kalau sekarang emak-emak bilang ngaret, sebenarnya ngaretnya udah dari jaman ono. Makanya gak kaget. Tapi kok masih juga banyak penumpang yang memilihnya ya? Herannn...(murah sih, hehe...)

Usai ngomongin program kerja dll di Novotel Hotel di Bali, pasti dong ujung-ujungnya juga kami seneng-seneng. Ya iyalah karena kesehariannya berkutat dengan target, target dan target. Jadi perusahaan gantian menjamu kami. Menghilangkan stress nya di Ulu Watu, Garuda Wisnu Kencana, jalan ke pantai dan gala dinner di hotel. Pokoknya kami jadi seneng. Hampir seminggu itu saya dan teman-teman dimanja full oleh kantor.

Hmm..saat pulang, kami menuju kota masing-masing. Bersatu kembali di bandara untuk berpisah. Saya bersama 3 orang lainnya menuju Surabaya. Kali ini pun menggunakan Lion Air. Duh...Lion lagi Lion lagi. Apa mau dikata, kan saya tinggal nerima tiket dan terbang saja kan mak? Gratis, sekali lagi fasilitas gratis, ya tak ada pilihan...hehe...
(Sumber: Tribunnews)
Dari dua penerbangan sebelumnya pakai Lion Air, dua-duanya molor. Jadi kebawa juga kekawatiran dalam hati saya, untuk kepulangan dari Bali ke Surabaya. Dalam hati sih berdoa, semoga no molor alias on time. Tapi kekawatiran itu teryata terjadi! Bahkan bukan cuma 1 jam seperti dua penerbangan kemarin. Malah molornya bertambah jadi 2 jam lebih. Karena memang butuh, mau gak mau menunggu juga kan? Yang penting bisa terangkut pulang. Waktu itu terlambat, alasannya sih ada something wrong. Jadi harus menunggu perbaikan alias ada yang rusak. Ya betul juga sih, mending diperbaiki daripada terbang trus mesin eror kan jadi musibah juga. Pastinya semua penumpang juga gak mau kenapa-kenapa kan? Saya men-cap Lion maskapai yang tak tepat waktu, pesawat yang sering perbaikan disaat seharusnya terbang. Sampai berpikir tentang layak tidaknya si burung besi terbang milik Lion. Semua itu berdasarkan pengalaman terbang lho, bukan negatif thingking.


Jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines

Hari Minggu lalu, tepatnya tanggal 10 Maret 2019, ada kabar duka menyebar. Sebuah maskapai penerbangan asal Ethiopia jatuh dan menewaskan 157 orang. Ada seorang warga negara Indonesia turut menjadi korban musibah tersebut. Menurut informasi yang berkembang, pesawat berjenis Boing 737 Max 8 ini sulit dikendalikan oleh pilot pesawat.
(Sumber: Tribunnews.com)
Pesawat tersebut jatuh setelah beberapa saat lepas landas atau take off dari Bandara Bole, Addibs Ababa, Etiophia. Sejatinya pesawat dengan nomor penerbangan ET 302 hendak menuju ke Nairobi, Kenya. Tapi apa dikata , pesawat naas itu tak pernah sampai di tujuan. Ternyata jatuh setelah 6 menit terbang. Padahal pilot yang bertugas berpengalaman dan sudah mengantongi 8000 jam terbangnya. Pilot pesawat Ethopian Airlines adalah pilot Kapten senior Gethacev  yang performanya terpuji. Sedang Co pilotnya sudah mengantongi 200 jam terbang.

Sisi keahlian dan pengalaman kedua penerbang Ethiopian Airlines tak diragukan lagi. Tapi kenapa pesawatnya bisa jatuh ya mak? Menurut petugas bandara setempat, pilot Gethacev meminta ijin untuk kembali karena ada sesuatu yang eror. Dan pihak bandarapun sudah memberi ijin kepada pesawat berjenis Boing 737 Max 8 itu. Tapu kemudian keberadaan pesawat tidak terdeteksi radar lagi. Belakangan diketahui pesawat itu jatuh tak berapa lama setelah take off.

Merujuk jenis pesawat Ethiopoan Airlines itu ternyata sama jenisnya dengan Lion Air yang tahun lalu jatuh dan menewasksn 189 penumpang. Masih ingat kan yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat itu? Kejadiannyapun hampir mirip, setelah take off pedawat Lion dengan nomor penerbangam JT 610 seperti yang dilansir Tribunnews.com, pilotnya juga meminta untuk kembali ke bandara. Dan juga tak kunjung tiba malah kabar jatuh dan terbakar yang tersiar.

Beberapa kesamaan antara keduanya yakni jenis pesawat Boing tipe sama dan kerusakan atau pesawat susah dikendalikn, menjadi faktor penyebab musibah. Sehingga muncul dugaan sementara, ada kurang sempurnanya produk tipe pesawat tersebut.

Ngeri ya mak kalau kita naik pesawat tapi kita tidak tahu keamanan dari pesawat tersebut. Benar sih musibah itu datang kapan saja tapi kalau karena faktor human eror atau product eror, kan bisa diminimalisir atau ditinjau ulang pemakaian pesawat tipe itu? Ya kan?

Respon Pemerintah Indonesia Dengan Musibah Jatuhnya Ethiopian Airlines

Pemerintah Indonesia melalui Dirjen Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan dengan bijak mengeluarkan larangan sementara pesawat Boing 737 Max 8. Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti memgatakan, hal tersebut untuk menjamin leselamatan penerbangan udara di Indonesia.

Pemerintah merespon cepat ya mak, karena tidak mau ada musibah penerbangan lagi di negeri kita. Lantas maskapai mana yang memiliki jenis pesawat yang sama dengan yang jatuh, baik di Indonesia maupun Ethiopia? Nah berdasarkan info yang saya dapat dari berita di SCTV, Garuda memiliki 1 unit pesawat sejenis Boing 737 Max 8 sedangkan Lion Air memiliki 10 pesawat sejenis. Nah ! Lion lagi, Lion lagi...!

Menurut Prameswari, pihaknya akan segera melakukan inspeksi untuk memastikan pesawat tipe Boing 737 Max 8 yang dimiliki kedua maskapai itu, untuk sementara tidak diterbangkan (temporary grounded). Selain itu akan mengecek kelayakan terbang (airworthy) pesawat yang ada di Indonesia. Setuju sekali ya mak, semoga tidak ada tragedi lagi. Aamiin..

Nah sebenarnya pesawat berjenis Boing 737 Max 8 ini kapan ya diproduksi? Kok sudah dua kali kejadian serupa dengan jenis pesawat yamg sama. Simak lagi ya mak biar lebih jelas. Capek membaca? Minum dulu ..hihi..

A. Data pesawat Boing 737 Max 8 :
     - Agustus 2011 : desain dan perakitan
     - Januari 2016 : sertifikasi
     - Maret 2016 : uji coba
     - Mei 2017 : penerbangan perdana namun ditunda karena sesuatu hal.

B. Kecanggihan Boing 737 Max 8
     - Mampu terbang selama  7,5 jam
     - Irit bahan bakar
     - Sayapnya mampu memecahkan gelombang turbulensi (badai)

C. Kecelakaan Pesawat Boing 737 Max 8
     - Lion Air PK LQP di Karawang tanggal 23 Oktobet 2018.
       Menewaskan 189 orang penumpang.
     - Ethiopian Airlines ET AVJ di Addibs, Ababa tanggal 10 Maret 2019.
       Menewaskan 186 orang penumpang.

Dari data dan fakta tersebut, sebenarnya Boing 737 Max 8 usianta belum genap 2 tahun. Kok "oleng" pengoperasionalnya? Wah ini masih diteliti dan memang sih dalam penelitian lebih lanjut. Tapi akhirnya berimbas pada beberapa negara yang untuk sementara melarang penerbangan peswaat tipe itu. Selain Indonesia ada 8 negara lainnya yakni Korea Selatan, Brasil, Afrika Selatan, Singapura, Mongolia, Tiongkok, Ethiopia dan Meksiko.

Takut Naik Pesawat?

Manusiawi ya mak kalau setelah kejadian musibah kecelakaan pesawat, kita agak parno dan trauma. Kadang kita lebih memilih moda transportasi lainnya melalui darat seperti kereta atau bus. Kalau tujuan bepergian kita bisa ditempuh dengan keduanya tidak masalah. Tapi kalau jauh melalui lautan dan harus menempuh beberapa hari, bisa juga naik kapal laut. Pasti butuh waktu yamg tak sedikit kan?

Kembali pada diri kita sih mak. Kalau saya pernah juga mengalami ketakutan saat penerbangan dari Bali menuju Sirabaya tahun 2013. Ada turbulensi yang membuat pesawat bergetar dan lumayan menakutkan. Semua penumpang berteriak dan kalimat Allahu Akbar menggema. Beruntung sekian detik kemudian pesawat stabil kembali. Takutnya sesaat itu saja, tapi ya membuat dag dig dug der...

Pernah juga di tahun 2012 saat penerbangan dari Jakarta menuju Malang. Karena hujan deras ditambah petir, jarak pandang pilot terbatas. Apalagi bandara Malang secara geografis  terletak di antara jajaran pegunungan. Sehingga pesawat harus memutar arah dan sementara landing di Surabaya menunggu cuaca cerah. Setelah dinyatakan cuaca membaik saya beserta anak sulung saya terbang lagi ke Malang. Hihi..Dapat bonus tebang Surabaya - Malang pp gratis tapi dengan perjalanan yang penuh deg-degan. Waktu itu terbang bersama Sriwijaya Air.
(dok.pri)

Beberapa kali mengalami hal yamg cukup menegangkan, apakah membuat saya takut naik pesawat? Insha Allah tidak mak. Yang penting memilih maskapai yamg mempunyai performa bagus tentunya dengan pesawat yang  recommended dan tak memiliki banyak "dosa" pada penumpang. Dosa? Yah seperti yang sudah saya paparkan diatas. Seperti tidak on time terbang karena ada kerusakan mesin pesawat yang kurang terawat. Tahu kan mak kalau pesawat tak terawat bisa menyebabkan human eror. Dan pesawat bisa bleggh dan duarrrhhhgg...Duh amit-amit yaa...Naudzubillah himindzalik..

Nah jadi mak, kalian nyante aja jangan takut untuk naik pesawat. Pilih pesawat yang good condition, meski harga agak tinggi gak masalah, yang penting aman dan nyaman. Karena keselamatan lebih penting kan mak? Nyawa kita cuma satu lho...Kalau dah pilih pesawat yang oke ternyata ada something accident, itu sudah takdir. So...Jangan deg-degan lagi ya mak, berpasrah diri dan berdoa. Enjoy and safe your flying...

Love,

Nyk's Note

#Setip
#SetipEstriloopCommunity


S.13: Nikmati Lezatnya Tahu Campur Jagalan Malang

Maret 11, 2019 5 Comments
Tahu Campur P. Iwan (dok.pri)

Kata orang, Malang itu gudangnya kulineran. Banyak bertebaran menu-menu asyik yang mengundang selera. Bukan hanya Bakso Malang, tapi masih banyak lainnya seperti menu Tahu Campur. Meski bukan kuliner asli Malang, tapi setidak ikut serta meramaikan dunia perkulineran di Malang.

Kulineran di Malang rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke Tahu Campur Pak Iwan. Tahu Campur ala Lamongan ini,  rasanya enak dan lezat. Tentu saja membuat pelanggan selalu ingin kembali mencicipinya. Bahkan kuliner yang berlokasi di Jagalan Pojok atau  Jalan Piere Tendean Malang ini tak pernah sepi pembeli. Seperti apa sih  makanan yang banyak disukai orang ini? Simak yukkk...

Tahu Campur Pak Iwan Legendaris

Adalah Haji Ichwan pemilik tempat makan di Malang yang cukup dikenal. Mulai berjualan Tahu Campur tahun 1974 dengan gerobak keliling kampung. Awalnya sulit untuk menjajakan dagangannya. Tapi karena tekun dan telaten, semuanya membuahkan hasil.

Seiring berjalannya waktu, bertambahlah pelanggannya. Sehingga sekitar tahun 1980-an, Pak Iwan demikian biasa disapa, memutuskan untuk kontrak tempat sebagai warung Tahu Campurnya. Dan hingga kini masih ditempati memasuki tahun ke-45 berjualan. Legendaris kan?
Warung Tahu Campur P. Iwan (dok.pri)

Tahu Campur, menurut Pak Iwan, sebenarnya makanan asli dari Lamongan. Saat dia berhijrah dari kota asalnya, memang berniat untuk menjual makanan berkuah tersebut. Sangat cocok bila dinikmati malam hari, apalagi  saat Malang berhawa dingin seperti sekarang.

Nah kalau sudah begitu pasti traveler ingin makan yang panas dan pedas kan? Menikmati Tahu Campur Pak Iwan menjadi alternatif yang tepat. Selain bisa mengusir hawa dingin juga bisa mengganjal rasa lapar.

Tahu Campur, Bermacam Bahan Jadi Satu

Menempati ruang berukuran 3x4 meter, dengan kursi plastik hingga ke teras sampai pinggir jalan, tak pernah kosong. Wajar saja karena kuliner Tahu Campur Jagalan ini rasanya sedap. Kuahnya dari kaldu daging dan bumbu-bumbu lainnya.
Kuah Tahu Campur dan daging (dok.pri)

Yang membuat Tahu Campur jadi terasa khas adalah bumbu petisnya. Kata Pak Iwan, komposisi dan takaran bumbu harus pas untuk menghasilkan rasa kuah yang nikmat dan sempurna. "Sampai sekarang masih saya yang meracik bumbu-bumbunya," kata bapak dari 3 anak ini.

Sedangkan isinya berupa campuran bahan terdiri dari tahu, sayur sla, kentang, so'un,
kecambah, perkedel singkong dan irisan daging khusus yang empuk. Lebih enak lagi jika ditambah sambal dan kerupuk. Siapapun pasti tergoda untuk menyantapnya.
Isian Tahu Campur (dok.pri)

Tahu Campur Pak Iwan menyediakan 2 pilihan yakni porsi biasa dibandrol 13 ribu. Sedangkan lainnya  porsi jumbo dengan harga 19 ribu. Harga yang terjangkau kan? Buka mulai pukul 16.00 hingga pukul 22.00 atau kalau tutup lebih awal biasanya karena kehabisan.

Selain melayani di tempat, pemilik warung juga menerima orderan tahu campur untuk hidangan acara yang digelar perorangan, lembaga ataupun kantor. Seringkali Pak Iwan menyediakan menunya untuk acara resepsi pernikahan. "Hampir seluruh gedung yang biasa untuk acara pernikahan sudah saya datangi semua," kata Pak Iwan sambil bersyukur.
Haji Iwan bersama istrinya (dok.pri)

Dari hasil penjualan selama hampir 43 tahun, Pak Iwan merasa diberi kemudahan dan kelancaran. Bersama istrinya, belum lama ini menunaikan ibadah haji yang merupakan cita-citanya sejak awal berjualan. Kini keinginannya tak berlebihan agar usaha Tahu Campurnya bisa bertahan selamanya untuk anak cucunya kelak.

Nah gimana mak? Kalau lagi liburan di Malang, jangan lewatkan ya untuk menikmati Tahu Campur Jagalan ini. Pasti emak bakal ketagihan deh...hehe...

Salam Arema,


Nyk Note

#setip
#setipEstrilookCommunity

S.12: Keliling Kota Malang, Gratis Bersama Macyto

Maret 11, 2019 9 Comments
Bus Macyto siap berkeliling (dok.pri)

Malang merupakan satu kota jujugan wisata di Jawa Timur. Tak hanya ingin memberi pelayanan yang optimal kepada wisatawan saja, tapi Pemkot Malang juga ingin membuat pengunjungnya nyaman. Banyak cara ditempuh oleh Pemkot Malang lho Mak, mulai dari mempercantik kota dengan taman hingga fasilitas lainnya seperti transportasi gratis. What?  Gratis?

Nah kalau emak ingin jalan-jalan di Malang, bisa gratis lho. Gak percaya? Jangan lewatkan pokoknya kalau pas liburan di kota sejuk ini. Emak dan keluarga bisa naik bus khusus yang disediakan oleh Pemkot Malang. Kemana saja rute dan kapan bisa ikut bus tak berbayar ini? Yukkk simak ya Mak ...

Macyto Bus  Bertingkat yang Unik

Malang sebagai kota wisata kini tengah memolekkan diri dan terus berbenah ke arah lebih baik. Iya dong, semua pihak dikerahkan dari warga, pihak terkait dan juga pemerintah. Tidak hanya secara fisik seperti menjaga kebersihan kota, membangun taman-taman tapi juga menyediakan moda transportasi tak berbayar. Hmm...menarik ya?

Pemkot Malang saat inj memiliki dua unit kendaraan bus bertingkat yang kerap menyusuri jalan-jalan kota. Bus  Macyto atau Malang City Tour namanya. Keren ya Mak, hehe...Bus bertingkat dua ini milik pemerintah kota Malang. Sudah beroperasi kurang lebih sekitar 4 tahun sejak 2015 lalu. Saat itu Malang masih dipimpin oleh Walikota Muhamad Anton atau lebih dikenal dengan sebutan Abah Anton. Bus berwarna hijau dengan bentuk yang kotak dan unik ini selalu menarik perhatian masyarakat. Bahkan bus yang bisa mengangkut sekitar 40 penumpang ini menjadi kebanggaan warga Malang.
Siap keliling (dok.pri)

Sayangnya masih banyak warga yang belum mengenal keberadaan Bus Macyto ini. Maksudnya mereka bangga tapi belum tahu bagaimana cara untuk bisa mendapatkan fasilitas naik bus Macyto ini. Padahal layanan juga untuk warga Malang selain untuk melayani wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Balik lagi ke Bus Macyto ya. Bus ini memiliki bagian atas tanpa atap, sehingga penumpang dengan leluasa bisa melihat pemandangan kota. Meski demikian keamanan menjadi hal utama. Petugaspun selalu mengingatkan penumpang, saat melewati pepohonan tinggi di pinggir jalan. Banyak ranting-ranting yang menjulur diharapkan penumpang agar menunduk supaya tidak tersangkut.

Bus bagian atas tak beratap (dok.pri)


Fasilitas Bus Macyto selain tak berbayar juga ada safety belt atau sabuk pengaman untuk penumpang yang di atas. Kalau bagian bawah karena dirasa lebih safety, sehingga tidak terlihat safety belt seperti di atas. Bus yang tampak antik ini, baik lantai atas ataupun bawah tampak bersih. Sebab ada tempat sampah yang disediakan. Jadi bagi penumpang yang membawa bekal minuman atau snack bisa membuang sampah pada tempatnya. Kalau penumpang atau warga mempunyai kesadaran tinggi tentang kebersihan, tentu saja tampak kinclong terus bus nya Mak...

Menurut  Agung H. Buana selaku Kepala Promo Wisata Disbudpar Malang mengatakan, tujuan beroperasinya Macyto ini agar wisatawan nusantara dan mancanegara mengenal kota Malang. Tentu saja Macyto ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Yang pertama pasti suka dong naik bus unik tak berbayar, diajak muter-muter Malang dan banyak informasi yang diberikan oleh petugas.

Berkeliling Mengitari Area Heritage

Saat berkeliling mengantar para penumpang, akan ada petugas yang menjelaskan tentang tempat-tempat yang dilewati. Ternyata di pusat kota Malang banyak lho mak tempat yang bersejarah dan menjadi cagar budaya. Seperti Alun-alun Tugu, Museum Brawijaya dan masih banyak lagi.
Alun-alun Tugu yang bersejarah (dok.pri)
Museum Brawijaya (dok.pri)

Rute Bus Macyto titik keberangkatan dari Taman Wisata Rakyat (Tawira) yang lokasinya persis di belakang kantor pemkot. Kemudian bergerak mengitari alun-alun Tugu menuju stasiun Kota Baru. Selanjutnya melalui Lapangan Rampal ke arah lokasi Wisata Heritage di Kayu Tangan.

Sepanjang jalan penumpang akan melihat bangunan tua dengan arsitektur model Belanda seperti SMA Coryesu. Bus Macyto selanjutnya mengarah ke Alun-Alun Malang, Jalan Kawi, Jalan Ijen, putar balik dari Jalan Simpang Balapan menuju Alun-Alun kembali. Lewat Pasar Besar, Kampung Warna-Warni dan kembali ke pool bus di Tawira. Perjalanan keliling kota akan menghabiskan waktu sekitar 70 menit.

Kampung Warna Warni (dok.pri)

Jadwal Bus Macyto

Bagi yang berminat naik Bus Macyto harus datang ke Tawira. Untuk rombongan sebaiknya konfirmasi pendaftaran dulu mengingat jadwal bus selalu full. Khusus rombongan bisa menghubungi disbudpar untuk booking jadwal. Sedangkan untuk masyarakat umum yang non rombongan, bisa langsung datang ke lokasi Tawira tanpa dipungut bayaran.

Adapun jadwalnya adalah Senin hingga Jumat mulai pukul 09.00-12.00 khusus wisatawan. Untuk umum dan wisatawan hari Sabtu dan Minggu pukul 09.30-12.00.

Bagaimana makkk, minat untuk keliling kota Malang dengan Bus Macyto? Gak bayar alias gratis. Pasti mak dan keluarga bakal terkesan!

Salam Arema,

Nyk's Note

#setip
#setipEstrilookCommunity

S.11: Griya Gribig, Guest House Bernuansa Jadul

Maret 05, 2019 29 Comments

Guest House Griya Gribig (dok.pri)


Kalau mau berlibur ke suatu kota, emak dan keluarga pasti butuh penginapan, hotel atau guest house kan? Pasti akan searching untuk mencari tempat bermalam dengan kriteria yang cocok. Harga, fasilitas ataupun konsep unik kadang turut menjadi pertimbangan.

Nah salah satu guest house di Malang yang memiliki keunikan adalah Griya Gribig. Guest house yang berlokasi di Jalan Ki Ageng Gribig ini menawarkan nuansa budaya Jawa dan suasana tempo dulu. Bukan saja interior yang Njawani, tapi juga penamaan semua kamar yang kental dengan nama tokoh pewayangan.

Baca juga : ada apa dengan hotel victoria malang

Yuk simak apa saja kelebihan Griya Gribig yang Desember lalu berusia 2 tahun.

1. Lokasi yang Strategis

Lokasi Griya Gribig persis disisi jalan Ki Ageng Gribig no 100. Dari pusat kota ditempuh sekitar 15 menit atau 3 KM arah timur. Kalau traveler saat berlibur menggunakan moda transportasi kereta api ataupun pesawat, tak sulit untuk menuju ke guest house Griya Gribig.

Karena berada di lokasi strategis sehingga emak dan keluarga tak sulit bila ingin berjalan-jalan di Kota Malang ataupun ke Batu. Bila tak membawa kendaraan sendiri, bisa menggunakan taksi online yang bertebaran saat ini.

2. Bangunannya Unik dan Etnik

Guest house Griya Gribig berlantai 2 dan memiliki 16 kamar. Baik bangunan dan interiornya sangat kental dengan budaya Jawa. Model kamarpun etnik dengan nama-nama kamar menggunakan nama tokoh pewayangan. Seperti Nakulo, Sadewa, Petruk, Gareng, Gatotkoco dll.

Pernak pernik juga menggambarkan suasana tempo dulu. Seperti di area resepsionis yang berada di ruang terbuka terdapat topengan Malangan dan hiasan dinding wayang. Diatas meja terdapat wakul-wakul beragam ukuran yang ditata rapi. Mengingatkan kita pada suasana pedesaan kan?

Ada juga lampu petromak yang berjejer menyambut pengunjung guest house. Semakin memnggiring pengunjung melintasi kembali jaman dulu.

3. Harga Terjangkau

Guest House Griya Gribig memiliki 4 macam tipe kamar. Tentu saja traveler bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan budgetnya. Tipe tersebut yakni standar, Superior, Standart Twin dan Family Room. Harga menginap kisaran 275 ribu hingga 450 ribu per malam.

Untuk standart dan standart twin diharga 275 ribu. Superior harga 295 ribu serta Family room dengan 2 bed besar untuk 4 orang di kisaran 450 ribu.

4. Taman yang Njawani

Ada taman kecil di guest house yang berhalaman minimalis. Terdapat kereta kuda seperti yang seringkali digunakan raja-raja di Jawa dan aneka tumbuhan mempercantik suasana penginapan.

Di depan kamar juga ada 2 motor jadul serta kursi panjang kuno yang memperkuat nuansa budaya Jawa.

5. Fasilitas lengkap

Emak dan keluarga yang memilih menginap di guest house ini akan mendapatkan fasilitas diantaranya WIFI, breakfast dan ada kafe untuk sekedar kongkow bersama keluarga atau teman. Oya pigak manajemen juga menyefiakan paket ke Bromo dengan jeep atau motor trail.

Gimana makkk...cukup oke kan guest hoise dan fasilitasnya? Semoga next time saat emak mau liburan ke Malang, gak susah-susah lagi cari tempat buatnginap. Semoga bermanfaat...

#Setip
#SetipEstrilookCommunity

S.10: Lembah Tumpang, Wisata dan Kuliner bagai di Sebuah Kerajaan

Maret 04, 2019 12 Comments

Candi Utama (dok.pri)


Tahun lalu saya pernah berkunjung ke wisata keluarga Lembah Tumpang. Waktu itu HTM masih 30 ribu. Awal masuk ke gerbang sih sempat merasa seperti dalam lingkungan kerajaan. Banyak patung prajurit yang konon jumlahnya hingga 2000. Ada candi buatan lumayan gede berlantai 4. Taman-taman asri yang mengitari kolam ikan koi dan kolam renang. Wisata yang lokasinya berjarak 25 km arah timur Malang merupakan destinasi yang berkonsep kerajaan Majapahit dan Singosari.

Waktu itu kolam renangnya cuma satu yakni ada di Taman Aurelia. Kolam anak ini memiliki kedalaman 80  cm dan airnya sangat bening. Menurut Cendy selaku marketing, air kolam berasal dari sumber mata air alam. Sehingga sangat segar dan tak perih di mata.
Kolan renang di Taman Aurelia (dok
Pri)

Setahun setelahnya, saya berkunjung lagi. Tiket masuk naik menjadi 50 ribu, parkir motor 5 ribu serta kendaraan roda empat 10 ribu. Area Lembah Tumpang yang memiliki luas 16 HA sudah banyak berubah. Kolam renangnya bertambah 4 buah, ada wahana kano, river tubing juga flying fox. Namun hotel yang belum rampung masih proses pembangunan.


Di tempat wisata keluarga ini memiliki 6 gazebo atau tempat untuk rehat setelah pengunjung mengitari Lembah Tumpang. Gazebo tersebut antara lain Maheswara, Aryadita, Sananta 1 dan Sananta 2 juga Novita. Masing-masing gasebo letaknya agak berjauhan diantarai taman hijau dan juga patung-patung yang banyak betebaran.
Taman yang asri (dok.Atikers)

Oya sebenarnya ada ressotnya juga. Tapi berhubung fasilitas belum lengkap menurut Cendy belum dibuka untuk umum. Selain itu juga ada kafe nya lho. Menunya asik dan harga terjangkau. Meski ada kafe pengunjung, diperbolehkan untuk membawa minuman dan snack saja. Untuk makanan berat tidak dikenankan. Bila ada yang melanggar akan dikenai denda sebesar 300 ribu. Nah emak-emak dan lainnya kudu concern dengan aturan ini ya? Ihh... sayang kan kalau harus bayar denda. Mending uangnya buat makan-makan di kafe Maheswara atau kafe Aryadita. Iya kan? Hehe....

Anyway...berwisata rasanya tak afdol kan bila tak mencicipi kuliner setempat. Ya gak sih? Sebab kuliner dan wisata bagai dua sisi mata uang yang tak terpisah. Contohnya ya sajian Mie Lembah dan Nasi Goreng Teratai yang spesial ada di Lembah Tumpang ini.
Nah Kafe yang menyediakan menu tersebut adalah Kafe Maheswara. Kafe ini  ada disalah satu gazebo yang ada di Wisata Lembah Tumpang. Dikelilingi taman dengan berbagai tanaman hijau menjadikan kafe ini sejuk dan betah untuk duduk berlama-lama.

Bersama Chef Praspa di Kafe Maheswara (dok.pri)

Di kafe Maheswara menu Mie Lembah dan Nasi Goreng Teratai diracik. Dari namanya sudah terbayang kan menu yang merakyat ini? Tapi kalau melihat sajian dan taste-nya beda lho dengan menu yang ada di luaran. Praspa selaku Chef Kafe Maheswara  mengaku, mie olahannya dikreasi dengan berbagai bahan.

Mie Lembah yang Rasanya Wahh

Mie Lembah diolah dari bahan mie pilihan, tauge, sawi, telor dan sosis. Dengan rempah bumbu berkualitas menjadikan Mie Lembah beraroma menggoda selera. Rasanya lezat dengam perpaduan rasa asin, manis dan gurih.
Mie Lembah (dok.pri)

Bertambah gurih karena ada toping kacang yang ditumbuk kasar. Kacang tumbuk ini menjadi ciri khas dari Mie Lembah. Saat disajikan ada pelengkapnya yakni daun sla, acar, juga

Nasi Goreng Teratai yang Aduhai

Tahu kan bunga teratai? Jangan dibayangkan ya kalau di piring kita ada bunga sungguhan. Yang ada bunga dari bahan kulit pangsit dan ditata menyerupai tangkup kelopak teratai.

Ditengah kelopak teratai tersebut nasi goreng dengan mix sayuran, telur dan sosis menempel cantik. Selain rasanya yang enak dan pas untuk lidah orang Indonesia, juga penampilannya sangat menarik.

Nasi goreng Teratai (dok.Atikers)

Berhias  irisan daun sla dibawah teratai, membuat nasi goreng ini menjadi istimewa. Ada kerupuk dan juga lelehan mayoneis dan saus serta irisan mentimun. Penampakan nasi goreng Teratai  yang cantik, rasanya sayang untuk melahapnya. Tapi berhubung urusan kampung tengah juga penting, mau tidak mau tatanan itupun menjadi santapan yang nikmat.

Bagi yang ingin berlibur ke Malang, jangan lewatkan kuliner Mie Lembah dan Nasi Goreng Teratai. Sambil mencicip menu lezat, berbonus view keren Lembah Tumpang yang asri.


#Setip
#SetipEstrilookCommunity

S.9: Kafe Apung Coban Tempursari Melekat di Hati

Maret 04, 2019 32 Comments


Saat melihat postingan kafe apung seorang teman di Coban Tempursari, saya langsung terpikat. Ingat juga kalau pernah ke coban itu beberapa bulan yang lalu. Tapi waktu itu hanya memandang dari atas. Dalam hati ingin bermain dengan gemericik airnya tapi berhubung belum ada jalan setapak menuju Coban Tempursari, jadi cukup puas hanya pepotoan berlatar belakang coban yang berlokasi di Jabung Malang.
Hanya bisa memandang Coban Tempursari (dok.pri)

Nah kebetulan ada sahabat satu gang apa geng ya, hehe...mengajak untuk barengan. Tanpa menunggu lama, kami berlima segera meluncur keesokan harinya. Wah nih perempuan semua. Dua orang berstatus emak-emak, dua gadis anak para emak serta seorang gadis yang gagah perkasa. Hehe...

Karena sebelumnya saya tahu medan menuju lokasi yang lumayan ekstrim, jadi sepakat deh mengendarai tiga motor. Para emak membonceng masing-masing putrinya. Dan...saya pun turut ikutan ngebut menuju tekape yang dituju. Ingat sama film si emak anak jalanan, eh Ali Topan Anak Jalanan yang suka ngebut...

Baca juga : griya gribig guest house bernuansa jadul

Titik meeting point disepakati di sebuah SPBU sekitar jalan arah Bandara Abdurachman Saleh sekitar pukul 09.00. Kemudian dilanjutkan ke arah timur Malang berjarak kurang lebih 25 KM. Tak cukup satu jam kami sudah memasuki area desa Begawan Lor Kecamatan Jabung. Mulanya jalan yang membelah desa tersebut mulus. Namun dititik jalan setapak sepanjang 100 meter lumayan berbatu. Gede-gede lagi batunya dan lumayan licin karena ada genangan air di beberapa tempat.
Jalan berbatu (dok.Dyah)

Kalau saya sih nyantai aja dan konsentrasi pegang setir motor. Tapi putriku agak kuatir jadi memilih turun untuk berjalan kaki. Sedang emak lain Si Ebo Dyah gak berani buat melewati jalan terjal pada kelokan di area makam desa. Nah inilah tugas gadis perkasa mb Atikers yang mengambilalih motor si Ebo Dyah. Hehe...bener sih jalannya kayak medan off road. Harus pintar memilih jalan yang bisa dilalui dengan lincah.

Dari kelokan makam berjarak 50 meter loket pembayaran terlihat. Berbayar 10 ribu untuk satu orang. Seharusnya berlima 50 ribu, namun si bapak penjaga memberi diskon 10 ribu. Hehe ya oke saja. Nah tiket 10 ribu ini sudah termasuk untuk Coban Jahe. Coban Tempursari, Indiana Camp dan coban lain yang ada disekitarnya. Murmer sekali kan?
Loket tiket (dok.Dyah)

Mulailah kami eksplor ke Indiana Camp. Di dalam area tersebut ada kafe apung di Coban Tempursari. Pintu masuknya ya melalui pintu Indian Camp. Setelah memarkir motor pandangan kami mulsi jelalatan lihat spot yang aduhai.

Kafe Apung yang Keren

Kafe apung ini memang belum lama dibuka. Tapi keberadaannya lumayan membuat pengunjung terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Kafe yang jaraknya hanya 2-3 meter dari curahan air terjun itu sungguh menciptakan sensasi luar biasa.

Helsom salah satu pengelola kafe mengatakan bahwa kafe ini baru ada sekitar 3 bulan. Bersama pengelola lainnya ingin membuat suatu kafe yang berbeda. Dengan mengusung konsep alami, dibuatlah sebuah anjungan dari kayu dengan 4 kursi dan sebuah meja.
Anjungan kafe apung (dok.pri)
Kafe apung Coban Tempursari (dok.pri)

Anjungan ini mengapung karena dibawahnya terdapat drum plastik. Saat pengunjung ingin menikmati kopi atau hanya ingin bernarsis, ada operator yang secara manual akan menarik tali yang dikaitkan pada pagar kayu anjungan. Sehingga anjungan itu bergerak mendekati curahan air terjun atau Coban Tempursari.

Menyeruput Kopi di Bawah Air Terjun

Kalau di kafe umumnya saat kongkow terdengar alunan musik. Bisa hingar bingar ataupun musik yang selow dan romantis. Tapi kalau menikmati kopi di kafe apung di bawah air terjun, beda musiknya. Yang ada musik alam dengan gemericik air serta view alami.
Nyeruput kopi di kafe apung (dok.pri)

Di kafe apung ini hanya dengan merogoh kocek 10 ribu, kita bisa menikmati secangkir kopi dan view alam sepuasnya. Namun kalau cuma bernarsis saja dengan spot cantik di area kafe apung berbayar 5 ribu. Harga yang cukup murah bukan?
Tarip spot (dok.pri)

Coban Tempursari lokasinya  agak  tersembunyi. Berada di bawah jalan desa dan tak nampak dari atas. Jadi untuk menuju ke lokasi harus melalui area Indiana Camp. Area ini merupakan kawasan perhutani yang ditanami pohon Mahoni. Di lokasi ini ada beberapa tenda kerucut menyerupai rumah ala-ala suku Indian.
Indiana Camp (dok.pri)

Kafe Apung Bagian Kafe Indiana Camp

Sebenarnya kafe apung adalah bagian dari kafe Indiana Camp yang masih satu area dengan Coban Tempursari. Kafenya  terletak terpisah dengan  kafe apung. Jadi kalau ingin menikmati kopi di kafe apung, pengelola akan mengirimnya dari atas. Sebab kafe apung berada di area bawah dan harus menapaki jalan menurun. Jaraknya sekitar 100 meter dari kafe yang beratap rumbia.
Kafe Indiana Camp (dok.pri)

Menu yang tersediapun sederhana seperti kopi sachet dan mie instant. Harganya pun sangat bersahabat antara 5 - 10 ribu. Namun menu tersebut akan terasa beda bila dinikmati di alam terbuka. Apalagi di area kafe Indiana Camp ini tampak hijau karena aneka tanaman. Ada juga kursi kayu lengkap dengan meja tertata rapi secara out door.

Jadi kalau emaks  berlibur ke Malang, jangan lewatkan ya untuk berkunjung ke Kafe Apung Coban Tempursari. Rasakan kopinya, nikmati alamnya. Jadi deh kenangannya melekat du hati....

#Setip
#SetipEstrilookCommunity