Wisata ke Kampung Coklat Blitar yang Memikat

September 16, 2018
Bicara tentang coklat, pasti terbayang rasanya manis dan enak. Disukai oleh semua umur dan pastinya nikmat. Hehe...kalian suka coklat? Tuh kan... pada angkat tangan semua. Tak terkecuali saya juga demen coklat.

Nah kebetulan waktu tahun baru hijriah kemarin, iya yang tanggal merah itu, saya berkesempatan ngumpul bareng sahabat-sahabat. Biasa acara pul ngumpul rutin sebulan sekali. Bisa dibilang reuni juga sih, sebab kumpulan ini adalah sahabat-sahabat saat kami dulu dibawah satu atap perusahaan kosmetik asal Amerika. Nah perusahaan itu sudah tak beroperasi di Indonesia sejak tahun 2006. Meski demikian kami semua masih tetap bersilaturahim dan guyup lho. Kami menamakan diri di WAG sebagai Alumni Avon Nasional. Pasti yang seumuran dengan saya langsung deh ingat produknya yang oke yah...
Sahabat-sahabatku waktu kami masih di Avon (dok.pri)

Dulu Avon Malang memiliki banyak leader yang tersebar dibeberapa kota di Jawa Timur. Salah satunya leader dari Blitar. Karena pertemuan kami selalu beranjangsana jadilah liburan lalu kami semua ke kota Bumi Soekarno itu. Ternyata Blitar kotanya bersih dan rapi. Tak terlihat ada kemacetan, padahal rumah sahabat kami tak jauh dari Alun-alun Blitar. Tahu kan seperti di Malang, alun-alun adalah pusat keramaian dan seringkali macet. 

Kali ini saya gak akan mengurai tentang kemacetan di Malang kok. Balik lagi ke Blitar, kami ngumpul ber- haha hihi, penyampaian info bermanfaat, makan-makan dan tak ketinggalan berselfi ria. Usai itu salah seorang dari kami mengusulksn untuk refresh ke tempat wisata. Dari beberapa yang diajukan, kami sepakat ke Kampung Coklat. Dengan pertimbangan mudah dijangkau dan tak menyita banyak waktu untuk menuju lokasi. Yaa jadilah kami semua cus ke tekape. Simak yaaa mana tahu kalian pengen juga ke Kampung Coklat..

Kampung Coklat Kampung Memikat

Lokasi Kampung Coklat tak jauh dari rumah sahabat kami. Berada di pinggir jalan poros tepatnya di jalan raya Banteng - Blorok Kademangan Blitar. Karena lokasi berada disekitar rumah penduduk, kampung Coklat ini setidaknya turut membantu ekonomi masyarakat sekitar. Mereka banyak menjual hasil kebun seperti Nanas dan buah Belimbing juga termasuk souvenir-souvenir bertuliskan Kampung Coklat.
Gerbang Kampung Coklat di Blitar (dok.pri)😚

Kampung Coklat sepintas tampak dari depan hanya seperti bangunan yang tak begitu luas. Bahkan terlihat gerbang atau bisa dibilang rumah berukuran standar. Tapi siapa sangka begitu kita masuk terlihat aslinya. Melewati jalan dengan lampu-lampu menyala (meski siang hari). Sementara disisi kanan kiri dinding terdapat frame tentang sejarah percoklatan.

Masuk agak dalam lagi ada loket tempat menjual tiket. Harga tiket masuk hanya 5ribu rupiah dan buka pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Menurut penjaga loket dihari Minggu atau libur, pengunjung Kampung Coklat padat. Lha tapi pas saya kesana sekitar pukul 14.00 terlihat sepi. Bahkan rombongan kami kurang kebih 20 orang bisa bernarsis ria di pintu masuk bertuliskan Kampung Coklat. Biasa kan kalau datang di suatu tempat yang dicari adalah spot untuk narsis. Tanpa menunggu clear tempat, langsung jepret dahh, hehe..

Ehh sepi? Ternyata kali ini saya keliru pemirsahhh...Begitu masuk gerbang bagian dalam, bukan yang pinggir jalan lho yaa...Saya rada speechless. Pasalnya begitu melangkah dari gerbang yang berpenjaga, terlhat pengunjung memenuhi hampir semua kursi yang ada di dalam area lokasi Kampung Coklat. Tampak rimbun dan adem pepohonan Coklat yang tertata rapi dan beraturan. Luas dan bersih.
Dihari Minggu atsu libur pengunjung banyak berdatangan (dok.pri)

Salah satu sudut Kampung Coklat (dok.pri)

Semakin melangkah masuk banyak spot foto yang menarik dan memikat. Ada spot bertuliskan Kampung Coklat. Juga tak ketinggalan buah coklat yang bergelantungan di batang menyembul diantara dedaunan pun jadi asyik buat bernarsis. Bukan itu saja fasilitas sebagai tempat rekreasi edukatif juga dimiliki Kampung Coklat ini. Konon di saat-saat tertentu ada edukasi tentang cara bertanam coklat hingga pembuatan coklat sebagai kudapan yang digandrungi segala usia. Tapi rupanya kami kurang beruntung, karena pas berkunjung event edukasi percoklatan tak nampak.
Buah coklat bergantungan di batang (dok.pri)


Tampak rierimbunan pohon coklat (dok.pri)

Bersyukur dan berdamai dengan hati saja yaa...hihi aslinya pengen lihat. Akhirnya kami menoleh kafe-kafe yang menawarkan minuman bergenre coklat. Harganya terjangkau hanya dengan 10K kami bisa menikmati minuman coklat yang maknyus, hehe...Rame-ramelah kami antri demi segelas coklat hangat yang mantap.

Kampung Coklat Ada Karena Kegagalan


Hidup tidak selamanya mulus. Terkadang harus melewati onak dan duri sebelum akhirnya menemukan solusinya. Seperti itu juga kisah pemilik Kampung Coklat ini. Menurut beberapa sumber yang sempat saya tanya, Kampung Coklat ini milik perorangan. Adalah Bapak Kholid Mustafa yang dulu memiliki usaha ayam potong yang sukses. Suatu saat ayam yang diternakkan terkena virus sehingga semua mati. Tentu saja beliau mengalami kerugian yang tidak sedikit. Namun beliau tak patah semangat. Sampai akhirnya berniat menanam coklat untuk dibudidayakan dengan serius

Luas kebun kakao Pak Kholid yang disulap menjadi Kampung Coklat seluas 750 m2. Dengan berbekal belajar atau magang tentang penanaman dan budidaya kokoa (coklat) di PTPN XII di Blitar dan Jember. Akhirnya bisnisnya dari peternak ayam petelor berubah haluan ke kakao.

Kemudian pada 1 Januari 2005 bersama rekan-rekanya Pak Kholid membentuk komunitas yang terdiri dari petani coklat. Komunitas itu bernama Gapoktan Guyup Santoso. Sampai tahun 2013 kelompok tani ini mampu memproduksi coklat olahan lokal dengan brand Guysant yang diambil dari nama kelompok Guyup Santosa. Dan kemudian berkembanglah dari hari ke hari smpai akhirnya Kampung Coklat dibuka sebagai tempat wisata edukasi.

Teman-teman yang ingin mengintip Kampung Coklat segera aja kesana. Banyak juga lho fasilitasnya seperti layaknya tempat wisata. Namun kelebihan yang dimiliki wisata edukasi ini adalah adanya kebun coklat yang ada ditengah-tengah wisata ini. Selain  ada beberapa kafe yang khusus menjual minuman coklat dengan berbagai varian, ada juga area permainan  anak-anak serta chocollate gallery.
Pintu masuk Chocolate Gallery (dok.pri)

Chocolate Gallery tampak ramai (dok.pri)

Chocolate Galerry ini menyediakan berbagai hasil olahan coklat. Dari coklat yang diolah sebagai minuman hingga coklat sebgai camilan yang nikmat. Harganya sangat terjangkau tergantung dari kocek kita yakni kisaran 9000 hingga 100ribuan. Kalau gak bisa nahan diri, pasti semua masuk keranjang belanja. Hehe...









Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

26 komentar

Write komentar
16 September 2018 20.22 delete

Gagal fokus sama alumni Avon. Hehe. Produk avon masih ada gak sih? Dulu sering denger 😁

Reply
avatar
16 September 2018 23.46 delete

Wah kampung coklat ya? Kebetulan sekali Bun. Waktu mudik lebaran kemarin, tetangga rumah saya jalan-jalan ke kampung coklat ini terus pulang-pulang kasih kami oleh-oleh berupa coklar juga

Reply
avatar
17 September 2018 01.20 delete

Waaaaah, pingiiiin ... mau jadi makanan atau minuman, coklat mah enak-enak aja

Reply
avatar
17 September 2018 04.39 delete

Bagusnya tempatnya, tertata rapi dan murah pula tiket masuknya. Kalau dekat udah langsung kesana akhir minggu ini bareng krucil.

Reply
avatar
17 September 2018 06.06 delete

Masya Allah keren bukan hanya kampung coklatnya melainkan kisah perjalanan sang pemilik. Bener ya selama kita terus bergerak apalagi di jalanNya insya Allah kesuksesan akan mendekat.

Reply
avatar
17 September 2018 06.12 delete

Perjuangan yang membuahkan hasil. Terpuruk bukan akhir dari segala usaha. Bangkit dr keterpurukan ...

Reply
avatar
17 September 2018 07.08 delete

ya ampuun berkali-kali pas mudik mau ke sini enggak jadi-jadi hihihi..
Padahal dari Kediri dekat ini
Tapi, jempol juga idenya, bikin yang di Blitar belum ada...Kampung Coklat!

Reply
avatar
17 September 2018 08.54 delete

Membayangkan coklat sambil membayangkan Avon, hahaha ... Itu kosmetik jaman aku SD atau SMP gitu kayaknya.

Reply
avatar
17 September 2018 15.49 delete

Kemarin abis dari malang mau ke kampung coklat enggak jadi. Liat sharingnya jadi kepengin lagi kesana. Ngomong2 saya baru tau itu pohon coklat, duh norak wkwk

Reply
avatar
17 September 2018 19.28 delete

Waw kampung cocholate mancaab ini mba. Aku doyan banget coklat. Bisa-bisa ke sini kalap haha.. makasih infonya ya mba

Reply
avatar
18 September 2018 04.28 delete

Tempatnya baguuus, instagramable ya mbak. Asyik banget buat photo-photo

Reply
avatar
18 September 2018 16.51 delete

Hehe...Avon di Indonesia udah gak ada mb. Tp kalau di LN masih ada. Dulu pemakai Avon?

Reply
avatar
18 September 2018 16.53 delete

Rejeki gak kemana ya mb? Belum sempat je Kampung Coklat yang penting udah merasakan coklatnya duluan, hehe

Reply
avatar
18 September 2018 16.55 delete

Yupp...berul mb coklat diolah apa aja yummyy...😊

Reply
avatar
18 September 2018 16.56 delete

Mba klau dekat cuz aja..hehe...coklatnya udah manggil-manggil...

Reply
avatar
18 September 2018 16.57 delete

Iya mba...tak patah semangat dan trus berusaha pasti hasil bskal mwngikuti...

Reply
avatar
18 September 2018 16.59 delete

Siapa berjuang akan menikmati hasil ...

Reply
avatar
18 September 2018 17.00 delete

Ntar mudik berikut kudu nyempatin mba, hehe...

Reply
avatar
18 September 2018 17.02 delete

Asikkkk...hehe betul mb kosmetik kesohor pd jamannya yang banyak membantu perempuan bisa berpenghasilan, tapi sayang....

Reply
avatar
18 September 2018 17.04 delete

Ayooo mb Stefi cuz Malang again...ke Kampung Coklat skalian. Melunasi keinginan hati haha

Reply
avatar
18 September 2018 17.06 delete

Bawa duit yang banyak mba Beti haha...sekeranjangpun bisa hbs buat belu coklat sekarung wkkkwkk

Reply
avatar
18 September 2018 17.08 delete

Pada doyan narsis ketemu tempat yang instagramable...ya udah jadinya sering jeprat jepret, hehe

Reply
avatar
18 September 2018 18.04 delete

Wow ... bagus sekali artilkel mb Erny bisa bikin yang belum pernah ke Kampung Coklat Blitar jadi penasaran. Keren memang tempatnya. Dengan penataan yg rapi ditambah ada unsur seninya sehingga lebih menarik. Disamping suasananya yang teduh karena rindangnya pepohonan coklat bisa membuat betah untuk berlama-lama disana. Apalagi ada galeri coklatnya yang tersedia berbagai variasi coklat . . . hmmm . . . . jadi pengin kembali lagi nih.

Reply
avatar
18 September 2018 18.36 delete

Makasih mb Nunuk sudah mampir dimari. Next kita bisa barengan kesana lgi ya...hehe

Reply
avatar
18 September 2018 20.53 delete

Waah klo tau dr dulu ada kampung coklat wkt masih sering ke malang, aku sambangin deh...tq i fonya Mba

Reply
avatar
18 September 2018 22.54 delete

Kesukaan aku banget nih, cokekat. Blitar sm Trenggalek kayaknya dekat ya mba, jadi pas ke desa bs sekalian mampir ke Kampung Cokelat Blitar.

Reply
avatar