Kopi Bukan Luwak, RM Jadul Di Jogja yang Keren

September 27, 2018 28 Comments
Bila kita jalan-jalan ke luar  kota -- selain destinasi wisata -- apalagi sih yang membuatmu keranjingan?  Yaa betul, kuliner jadi hal yang menarik untuk kita eksplor. Istilahnya, jalan-jalan akan terasa garing bila tak dibarengi wisata kuliner. Betul kan?

Nah kali ini saya akan cerita tentang Jogja.dan kulinernya. Saya sering menyebut Jogja kota penuh rindu. Teman-teman jalan saya tahu itu. Entah kenapa berkali-kali saya ke kota Gudeg ini tapi tak ada kata bosan menyeruak. Kota yang tak pernah tidur ini selalu menyodorkan semua yang istimewa. Spesial kota dan yang pasti kulinernya asik-asik. Selain oke cita rasanya, harga kulinernya pun  tak membuat kantong bolong apalagi melompong. Hehe .. 
Di kota Jogja ini saya berburu tempat  makan siang yang unik. Alhamdulillah saya menemukan sebuah rumah makan yang sangat adem. Bangunannya Joglo dengan pernik-pernik jadulnya yang menarik. Eksterior dan interiornya oke pasti menambah nilai plus ketradisionalannya. Tampak di teras terlihat kursi kuno, sepeda onthel juga lesung tempat menumbuk padi. Wah suasana  seperti ini yang membuat saya demen pake banget.
-
Tampak depan RM Kopi Bukan Iwak (dok.pri) 
Add caption

Masuk ke bagian dalam tak jauh beda. Semua furnitur yaa ampuun...mengingatkan masa-masa kecil saya. Dipan tua, pawon beserta perkakas ndeso yang luar biasa mengaduk-aduk hatiku. Masih speechless dan terkagum-kagum,  saya dipersilahkan ke bagian kanan rumah utama. Kaki ini melangkah  menuju pawon atau dapur untuk mengambil makanan secara self-service. 

Banyak menu yang terhidang disebuah meja kayu pendek. Meja jadul dan kelihatan seperti meja di kampung-kampung.  Tak ada perkakas yang berbau modern. Di meja kayu tanpa taplak terhidang sayur asem, botok, tempe, mangut lele dan masakan lain. Makanan tersebut diletakan pada wadah tradisional pula. Proses memasaknya juga masih di pawon  berbahan bakar kayu. Kereenn .. 

Sungguh sangat terkesan makan siang di Rumah Makan Kopi bukan Luwak. Rumah makan ala-ala ndeso ini  berlokasi di jln Kaliurang km 16 Kledokan, Pakem, Jogja. Kalian juga sering ke Jogja kan? Mampirlah kalau pas lewat.
Dua hari berada di Jogja sepertinya tak akan cukup waktu untuk mengubek-ubek wisata kulinernya. Tiba saat makan malam, saya mencoba kuliner ayam Ingkung Kuali yang berada  di Kalakijo Bantul. Lokasinya yang berada di tengah perkampungan, membuat saya kudu bolak balik bertanya. Yah namanya pengen jadi meski malam tak menghalangi untuk berburu makanan. Begitu tiba dilokasi saya mendapatkan surprise yang luar biasa dan berasa woww…

Rumah makan Ingkung Kuali bentuknya sangat artistik. Didesain sederhana, unik dan berbeda.  Rumah makan ini dibangun tanpa tembok. Sebagai gantinya adalah pilahan bambu yang tertata rapi membentuk satu bangunan yang cukup luas. Ornamenpun bernilai seni dan kreatif dengan “kurungan” ayam sebagai hiasan pelengkap lampu diatas.

Namanya juga Ingkung Kuali jadi menu makan malam saya ya ayam kampung utuh. Berbumbu khas tradisional dilengkapi santan kental terpisah. Kemudian santan dibalurkan ke ayam saat saya akan menyantapnya. Terasa nikmat bila dilengkapi dengan sambal dan aneka lalapan.
Sebagai penutup saya minum wedang Uwuh. Minuman tradisional ini dari bahan campuran jahe, rempah dan akar-akaran. Meminum wedang uwuh dipercaya bisa menghangatkan badan dan mengembalikan stamina tubuh. Sangat cocok untuk saya, mengingat sehari penuh lelah mengunjungi tempat-tempat cantik di Jogja.
Kalian penasaran dengan rumah makan bernuansa etnik Jawa jaman dulu? Atau ingin kongkow di rumah makan berhias “kurungan” bambu? Jawabnya: berkunjunglah ke Jogja, kota yang menyimpan sejuta rasa rindu…

Andai Dipoles Lagi, Kampung Putih Malang Bisa Oke Lho...

September 26, 2018 24 Comments
Belum lama ini Pemkot Malang menetapkan beberapa kampung yang masuk dalam kriteria kampung tematik. Jumlahnya ada sekitar 70an yang tersebar di 5 kecamatan yang ada di Kotamadya Malang. Dari sekian banyak kampung tematik ada 17 kampung yang dinyatakan layak untuk dikunjungi oleh wisatawan. Saya yang masuk dalam tim penulisan buku kampung tematik, minggu lalu berkunjung ke Kampung Putih, salah satu dari 17 kampung yang dibukukan.
Buku Pesona Kampung Tematik (dok.pri)

Kampung Putih belumlah setenar kampung tematik  yang ada di Malang. Sebutlah seperti Kampung Warna Warni, Kampung Tridi ataupun Kampung Topeng. Namun keberadaannya sudah mendapat "mandat" sebagai kampung tematik. Bahkan sebuah perusahaan cat lokal sudah menyulapnyanya dengan mengecat warna putih pada semua dinding rumah warga. Bertambah manis dengan cat hijau muda untuk atap rumah. Saat saya melenggang ke kampung tersebut, suasananya nyaman  dan bersih.


Kampung Putih dari atas jembatan sungai dekat RSSA (dok.pri)

Saya berangan-angan kalau saja dikelola dengan sentuhan artistik dan lebih serius, bisa jadi lebih dikenal. Sayangnya kampung yang berpenduduk padat ini belum seberuntung Kampung Warna-Warni dan lainnya. Meski pernah muncul isu bakal dijadikan objek wisata air dalam kota. 

Menuju Kampung Putih akses jalan sangat mudah dijangkau. Kalau mau naik angkutan kota, bisa ambil mikrolet AG dari Gadang ataupun Arjosari. Kemudian berhenti disekitar jembatan setelah atau sebelum RS Saiful Anwar (RSSA). Nah ada jalan disisi jembatan tertulis "Kampung Putih" di sebuah gapura. Bagi yang bersepeda motor bisa parkir di RSSA atau sebelah selatan jembatan. 
Gapura Kampung Putih (dok.pri)


Yang menarik, ada sebuah taman ditengah-tengah Kampung Putih. Lokasinya kalau ditarik garis lurus, ada dibalik dinding wisata Taman Brawijaya Edu Park. Taman Kampung Putih berlatar sungai Brantas yang berpagar besi. Tentu saja irama gemericik air sungai terdengar alami. Ada pohon rindang yang memayungi taman, walau sebenarnya pohon itu tumbuh diseberang dinding taman. Taman ini cocok sebagai spot untuk berselfie ria.
Taman Kampung Putih (dok.pri)

Spot untuk berselfi (dok.pri)

Selesai menikmati taman, saya menyusuri pinggiran sungai yang bersih hingga melewati bagian bawah jembatan Kahuripan. Tak dinyana saya begitu menikmati suasana aliran sungai Berantas yang berbatu. Genericik air menemani perjalanan saya bersama 2 putri saya. Di jalan tembus Pasar Bunga  adalah titik akhir rute menikmati Kampung Putih. Pikiran saya membayangkan, seandainya sungai Brantas ini dikelola untuk wisata air bisa juga lho. Dibuat semacam River Tubing atau wusata susur sungai.

Sungai yang mengalir di Kampung Putih (dok.pri)

Selain air sungainya beriak dan mengalir, pemandangan hijau disisi sungai juga rimbun lho. Pohon-pohom hijau menjulang menambah adem penglihatan kita. Waduhhh membayangkan berbasah ria diatas ban melaju seiring aliran air sungai. Woowww...
Menyusuri sungai hingga bawah Jembatan Kahuripan (dok.pri)

Kabarnya sudah ada yang survey untuk wisata air. Tapi sampai sekarang tak kabarnya lagi. Lumayan tuh kalau dikelola dengan baik, saya yakin Malang bakal tambah dilirik oleh wisatawan-wisatawan. Monggo ini menjadi PR bersama,  khususnya pihak terkait, bagaimana agar Kota Malang bisa mempunyai destinasi andalan.

Ehhh kok saya jadi ngelanturrr...hehe...Semoga ada angin segar yang lebih segar, untuk menghidupkan Kota Malang di sektor pariwisata yaa...
Pasar Bunga Malang (dok.pri)

Perjalanan saya  di Kampung Putih plus menyusuri sungai Brantas sekitar 60 menit, finish di jalan tembus Pasar Bunga. Rasanya segar dan langkah ini jadi mantap sebagai warming up dengkul saya yang dah tak muda lagi...😂😂😂

Bersantai di Kafe Lenong Rumpi yang Asoii...

September 23, 2018 37 Comments
Lagi suntuk karena tugas kuliah atau capek kerja? Enaknya ngapain ya? Yang pasti pengen nyante menikmati waktu bukan? Nah buat yang pengen kongkow di Malang,  boleh coba deh ke Kopitown Lenong Rumpi.

Begitu kita masuk sekitar lepas maghrib akan disambut pendar cahaya lampu yang konon bisa membuat kita bersemangat.  Kopitown Lenong Rumpi ini berlokasi di kawasan Perumahan Tidar tepatnya di jalan Esberg no 8 Malang. Suasananya hangat dan instagrammable. Kafe berlantai 2 ini didesain penuh kehangatan dengan bangku-bangku panjang dan kursi yang chick. Ini menyiratkan sebagai tempat berkumpulnya keluarga, acara arisan ataupun ngumpul bareng komunitas.

Seperti kemarin (19/9) saat  ngumpul bareng sahabat Blogger Kompasiana, Malang Citizen dan Malang Local Guide. Lantai 2 jadi pilihan. Selain untuk tempat kongkow  juga tersedia in focus untuk acara presentasi. Tapi jangan kebayang suasana ruangan seperti kantor yang formal dan kaku ya? Jauh dari itu. Ruangannya terbuka hanya ada dinding disatu sisi saja yang dipoles dengan picture yang artistik berupa bunga segar dan pepohonan.  Memberi kesan saat berkumpul penuh energi dan semangat powerfull. Hehe..



Konsep Pujasera yang Kekinian

Pernah ke pujasera kan? Pasti yang terbayang deretan gerai dengan deretan bangku yang tertata apa adanya. Nah di Kopitown Lenong Rumpi meski berkonsep pujasera tapi sangat memperhatikan estetika ruangan. Ada beberapa gerai di area ini seperti Summerice, Miegalau, Treesac, Egocafe yang menawarkan menu-menu yang oke.



Dari segi eksterior dan interiornya, konsep pujasera yang melekat menggambarkan kekinian. Seperti layaknya kafe-kafe yang banyak tersebar di Malang, menawarkan berbagai menu andalan dengan harga yang tak merogoh sampai dalam. Meski terkesan kafe kelas menengah ke atas, tapi kafe ini tak melulu menyediakan menu western ataupun oriental. Menu tradisionalpun ada khusus buat pengunjung yang ngefans food traditional.

Seperti malam itu saya mencicip nasi bakar Hell Spicy. Dikemas dalam daun pisang dengan topping potongan ayam bersambal bawang super pedas. Rasanya mantap pedas sampai ubun-ubun. Wooowww....Andai digambarkan dalam film kartun atau animasi, akan muncul rambut jabrig dan asap yang keluar dari telinga. Wkkkwkkk...
Saking pedesnya...

Sebagai penawar saya memilihi minuman Orange Squese yang segar. Minuman ini dimix dengan biji selasih yang mempermanis tampilannya. Tampak warna orange tersembul titik-titik biji selasih. Hmmm sungguh nikmat dan rasa pedaspun terobati segera.

Sebagai dessert atau makanan penutup saya memilih ice cream dari Summerice. Variannya banyak dan diproduksi sendiri. Sehingga cita rasa ice cream melekat sesuai variannya. Saya penyuka varian Durian pastilah memilih Durian juga. Aroma khasnya menggugah selera saya. Hmmm sungguh lumer hatiku.

Kopitown Lenong Rumpi Mengutamakan Pelayanan

Acara kongkow bareng malam itu juga diisi materi tentang Digital Marketing, Tips Menulis agar Tembus Headline juga Tips Menulis di Dumay. Acara bagi-bagi ilmu berbalut suasana guyup dan seru. Terkadang disela-sela serius, pemateri melontarkan guyonan segar agar yang lain bersemangat dan tak ngantuk.

Demikian juga pelayanan Kopitown Lenong Rumpi. Dari mulai saya masuk awal tadi sudah disambut senyum simpul para pramusaji. Bahkan saat haeus memilih menu, mereka dengan sabar menjelaskan menu-menu yang ada dilist. Wah klop dan lengkap sudah harmonisasi kerja yang oke.

Menyuguhkan suasana hangat, menu makanan dengan harga bersahabat plus pelayanan yang optimal. Siapa yang tak kan betah berkongkow disini? So, bersantailah di Kopitown Lenong Rumpi, pasti berasa asoiii...Buktikan yaa?








Melongok Indahnya Sunrise-MU di Puncak Panderman

September 19, 2018 30 Comments
Setelah beberapa kali cancel, Alhamdulillah malam itu kami janjian di seberang stasiun Kota Baru Malang. Sebenarnya kami semua dari Malang, tapi untuk meet up saya sengaja memilih tempat ini. Biar kesannya seperti orang dari luar kota gitu, hehe... Biasanya saat menjemput tamu wisata, meeting point juga disekitaran stasiun. Jadinya biar berasa lebih semangat. Olalaaaa, hehe...
Salah satu gradasi warna langit saat sunrise di Panderman (dok.pri)

Berboncengan dengan 2 motor kami segera menuju Batu, menempuh perjalanan 1 jam. Sayangnya ditengah jalan, seorang teman urung ikut nanjak ke Gunung Panderman. Karena mendadak ada tugas meliput. Walahhh...

Halangan pertama teman yang cancel mendadak, bisa dimaklumi. Ehhh... datang hambatan kedua, ban motor tetiba bocor. Alhamdulillah bocornya tak jauh dari gerbang wisata Panderman. Tepat di Jalan Sakura Pesanggarahan Batu, kami bertemu seorang teman yang juga mau bergabung. Nah gak lama ban sudah oke ditambal, kami berempat langsung menuju ke desa Toyomarto, desa terakhir sebelum Gunung Panderman.
Siap nanjak (dok.pri)

Bismillah, semoga tidak ada halangan lagi. Demikian saya membathin dengan doa yang selalu terucap. Saya, putriku yang berusia 13 tahun, Mba Intas dan Mas Febri, dengan niat dan semangat memenuhi keinginan ke Panderman  yang beberapa kali tertunda.

Awal Nanjak Sebelum Bener-bener Nanjak Panderman

Karena motor kami berjenis matic, oleh warga setempat disarankan untuk parkir di bawah. Yakni di desa sebelum jalan menuju gerbang loket (cek point) Panderman. Menurut salah seorang warga demi keselamatan diri. Sebab rutenya berbahaya untuk jenis matic. Jadinya kami memarkir motor dengan biaya nitip 10rb.

Malam pukul 22.30 WIB. Untuk menuju desa Toyomarto desa terakhir harus berjalan dulu kurang lebih 3 KM. Jalan yang terus nanjak dan berkelok tajam. Awalnya ditawari untuk naik ojek berbayar 10rb. Sekalian warming up jadi kami menolak dengan halus. Bergegas kami menembus gelap dan dinginnya malam. Mungkin saat itu kalian sudah pulas dalam mimpi yaa, hehe...

Sedikit terengah saya pemirsah..Karena baru melangkah 50 meter dari tempat parkir, kami kudu nanjak dengan kemiringan jalan 50 derajat. Dan itu terus nanjak! Melewati jalan yang ber-hotmix, mulus tapi climb up n climb up. 

Saya baru nyadar, kalau hanya rombongan kami yang meniti jalan nanjak ini. Beberapa kali ojek bersliweran dengan deru motor yang sedikit ngotot, membawa pengunjung yang ingin mendaki Panderman. Bahkan ada rombongan yang naik pick up menyalip kami yang terpaksa menghentikan langkah, memberi kesempatan mobil untuk lewat. Jalan yang sempit memaksa saya untuk rehat sekian detik saat ada motor atau mobil lewat. Tapi lumayan ahhh...modus rehat, wkkkwkkk..

Sementara jauh dibawah terlihat pemandangan yang indah. Kerlip lampu rumah penduduk dikejauhan bagai kunang-kunang di kegelapan. Itu kota Batu. Kami pun bernarsis dengan latar gemerlap lampu itu. Kalau saya sih terus terang modus lagi. Hihi...modus untuk rehat, bonus lagi...Sik asyikkk...



Semakin nanjak semakin dingin dan sepi! Saya hanya berdoa dan berpasrah dengan terus mengikuti jalan yang semakin naik. Tak saya hiraukan cerita orang-orang di tempat parkir tentang korban kecelakaan yang terjadi sepanjang jalan yang kami lewati. Menurut mereka kasus kecelakaan yang berujung kematian kerap terjadi karena tak menguasai medan jalan. Pokoknya kami semangat maju dan tak lupa tentu bertumpu pada trackpole. Sangat membantu saya untuk keseimbangan.

Semakin jauh berjalan tak ditemukan lagi rumah penduduk. Hanya angin yang terus mendesau pelan dan lama kelamaan bertiup kencang. Tiba di suatu villa ada bonus jalan datar, kami menghentikan langkah. Sudah tak terlihat lagi sliweran tukang ojek. Wahhh tinggal kami saja di jalur jalan yang gelap. Sambil berusaha membuang sepi kami guyon. Anin putri saya bertanya," masih jauh ya Ma?"

"Kita baru jalan separuh mba untuk tiba di loket gerbang, semangat yaa," hiburku. Putriku baru kelas 8 tapi beberapa kali ikut berpetualang. Awal ikut saat masih SD kelas 5 bareng Komunitas Rainbow Mommy mendaki sebuah bukit di Purwokerto. Kemudian di Budug Asu di ketinggian 2000 mdpl di kaki Gunung Arjuna dan yang lainnya. Saat ada ajakan ke Panderman dengan antusias putri saya menerimanya.

Tak berapa lama muncul motor dari arah atas. Mas ojek menawarkan jasanya. Terjadilah tawar menawar. Kesepakatan hanya membayar separo harga karena sudah separuh perjalanan, hehe.. Jadilah kami berempat diangkut ojek bergiliran. Waaawww....ternyata masih jauh dan harus melewati perkebunan yang gelap. Pantesan diantara srkian banyak pengunjung semua naik ojek, olalaaa ya karena jauhhh dan nanjak...

Saran saya kalau kalian ingin nanjak ke Panderman sebaiknya naik ojek dari parkir bawah menuju parkir atas. Itu kalau motor kalian berjenis matic. Oya kenapa ada yang boleh memarkir motor di atas yang letaknya di gerbang loket? Yah hanya untuk motor selain matic bisa "lolos" dari parkir bawah. Dan kenapa harus ngojek? Tentu untuk menghemat tenaga. Mending tenaga disiapkan untuk nanjak ke Panderman.Gak rugi kok keluarin kocek 10 rb, hehe...

Memulai Perjalanan Panjang Dalam Gelap Ke Puncak Panderman

Tiba di pos loket Panderman waktu menunjuk pukul 23.00 WIB. Setelah membayar tiket 10rb per orang kami menyusuri jalan setapak. Tentunya usai berdoa. Tampak sekeliling gelap hanya jalan setapak yang agak terang oleh lampu senter kami. Terdengar suara gemericik air menemani langkah-langkah yang beraturan. Saya cuma bisa membayangkan airnya pasti bening dengan tetumbuhan sayur yang menghijau.
Tiket masuk ke Panderman (dok.pri)

Bersama kami ada rombongan anak sekolah dari Kepanjen. Kami yang dari awal mendaki tanpa target waktu, mempersilahkan mereka untuk jalan duluan. Lagi-lagi gelap menemani kami. Yaa jelaslah...mana ada hutan di malam hari terang?  Hehe...Yang pasti sepanjang jalan kami berucap salam dan beristigfar untuk keselamatan kami

Sebagai pemula, kami ingin melalui jalan yang tak ekstrim. Sebelumnya
saya sempat googling kalau ada 2 jalur pendakian ke Panderman. Yakni jalur yang umum tak ekstrim namun lebih panjang dan memakan waktu 3-4 jam. Melewati jalur umum ini kita akan melewati pemandangan gunung dan hutan yang menghijau. Juga melewati kebun tebu yang entah ditanam warga atau tumbuh sendiri.

Sedangkan jalur satunya adalah jalur Curah Banteng. Jalur ini tidak disarankan untuk pendaki pemula karena akan menemui jalur yang sulit serta menanjak tanpa bonus. Bahkan saat saya googling, lewat Curah Banteng ini akan melewati jalur dengan kemiringan  nyaris 90 derajat. Jalur hanya bisa dilewati dengan cara memanjat.

Malam itu meski tak melalui jalur Curah Banteng, tapi trek yang kami lewatu cukup ekstrim! Woowww....sungguh kalau pas nanjak siang, mungkin kami bisa melihat seperti apa trek nya. Dalam keadaan gelap dan sedikit berdebu, kami nanjak dengan merangkak melewati bebatuan. Ya ampuunn...kami hanya berusaha jalan dan mengikuti arah. Peluh bercucur... Eh padahal hawa dingin yaa...Kalah lho sama geliat dan tingkah polah kami yang mengendap dan sedikit nungging menghindari lancipnya bebatuan. Beruntung kami semua memakai kaos tangan. Awalnya untuk menahan dingin, tapi belakangan untuk melindungi telapak tangan agar tak tergores batu.

Kurang lebih 1 jam berjalan  dari loket cek point kami tiba di pos 1 yakni Latar Ombo di ketinggian 1300 mdpl. Di Latar Ombo ini ada beberapa tenda yang didirikan. Tanah datar itu tak begitu luas sebagau area ngecamp pendaki. Kami saling bertegur sapa layaknya saling kenal. Yah begitulah saat bertemu sesama "pengunjung" Panderman atau gunung lainnya, biasanya saling suport dan menyemangati.

Seperti malam itu salah satu dari anak SMA Kepanjen ada yang sakit. Wajahnya pucat dan muntah-muntah. Sepertinya masuk angin dan kecapekan. Hingga perjalanan kami berempat pun terhenti untuk menolong anak yang sakit tadi. Memijat dan membaluri tubuhnya dengan minyak kayu putih. Bahkan meminjamkan kompor dan nesting untuk membuat minuman jahe hangat. Alhamdulillah tak berapa lama anak SMA itu kuat kembali. Yahhh... modus waktu rehat habis hihi...Semangat jalan nanjak lagi...

Pemirsah....menuju Panderman banyak jalan bercabang. Kudu membelalak mata melihat petunjuk. Ada yang menggunakan pita ada juga tanda panah yang ada di batang pohon. Disuatu jalan yang menanjak, waktu menunjukkan pukul 24.30 WIB kami berempat mendapati jalan yang bercabang lagi. Masih  tergiang saat di pos cek point,  bapak penjaga loket mewanti-wanti agar teliti membaca petunjuk supaya tidak kesasar. Mas Febri yang berada di posisi belakang bergantian dengan Mb Intas. Kami bertiga di bawah sedang Mas Febri mengecek jalan karena tak kami dapati petunjuk.

Saat Mas Febri nanjak sendiri, Mba Intas merasa ada sesuatu di belakangnya. Hihhhh...sedikit horor yaa. Seperti ada yang berdiri di belakangnya, padahal kita bertiga dengan formasi di posisi depan saya, tengah putri saya dan belakang Mba Intas. Takut gak yaa Mba Intas? Sambil terus istiqfar dia berusaha menyorot arah belakang yang memang gelap. Hihhhhh....

Sekitar 5 menit Mas Febri muncul dan memberi kode untuk melanjutkan perjalanan yang semakin menanjak. Tak ada rasa kantuk dan dingin, yang ada hanya rasa ingin segera tiba di puncak. Padahal pos 2 Watu Gede pun belum terjamah, hehe...

Menempuh jalan nanjak dari pos 1 ke pos 2 Watu Gede selama hampir 1 jam. Ditandai dengan batuan besar yang ada di pos 2 dengan ketinggian 1730 mdpl. Disini juga ada pendaki yang ngecamp tapi hanya beberapa saja karena lahan datarnya juga tidak begitu luas. Dalam hati saya bersorak, pasti tak lama lagi sampai di puncak Panderman.

Ternyata masih harus berjuang lagi. Ya Allah...sudah hampir 3 jam kami menyusuri jalan yang berdebu dan nanjak, melewati gelapnya malam. Menembus dinginnya hawa gunung yang tak terasa, karena fisik kami terus bergerak. Hanya terlihat bayangan teman seperjalanan dan jurang di kanan kiri jalan setapak. Selebihnya hanya gelap dan desau nafas kami yang tertahan.

Btw menurut informasi dari pos 2 menuju puncak hanya ditempuh dalam 30 menit. Itu normalnya. Tapi kalau langkah slow seperti langkah saya, bisa mencapai 1 jam. Hehe...Tapi jalannya yang ditempuh lebih ekstrim. Semakin mendekati puncak semakin medannya amazing, kemiringannya 80 derajat. Juga berbatu dengan kontur tanah seperti pasir. Licin pasti!
Watu Gede tampak siang hari (dok.pri)

Saat kami berusaha nanjak di bebatuan tampak 2 orang menyambut kami. Ahaaa..
rupanya teman Mas Febri. Alhamdulillah...dari atas ada 2 orang yang menarik kami satu per satu. Sedangkan 2 orang lainnya tampak berdiri. Hati saya jadi lega berarti rombongan bertambah jadi total 8 orang. Kami rehat sambil mendekati api unggun yang tengah menyala. Logistik pun keluar, ada yang makan nasi, roti, minum dll. Lelah sedikit menguap. Tak lama kami mengamankan lokasi untuk memadamkan api dengan air yang ada. Saat kami siap untuk melanjutkan perjalanan, spontan saya bertanya,"Lho mas yang satunya mana ya? Tadi kan mas berempat?"

Mas Febri menjawab,"lha kan dengan saya jadi cowoknya berempat bu, hehe" Tapi bener lho tadi saya lihat 4 orang yang bergabung. Akhirnya kami bertujuh melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya bertanya-tanya sosok yang satu lagi siapa? Kok tahu-tahu menghilang begitu saja. Dan tanya itu sampai sekarang belum terjawab! Kalaupun ada "penyusup" dari dunia lain, yang pasti tidak menganggu kami. Karena niat kami ke Panderman baik, hanya ingin melihat alam dan sunrise lepas subuh nanti.

Sunrise Panderman yang Sungguh Memukau 

Perjalanan panjang selama 3,5 jam yang cukup melelahkan berakhir. Kami tiba di Puncak Panderman yang berjuluk Basundara tepat pukul 02.30. Rasanya ingin segera merebahkan diri di dalam tenda. Hehe...tapi kudu nunggu tenda didirikan. Yahh.. beruntung Mas Febri dkk tanggap dan cekatan. Tak lama tenda berdiri dan kami bertiga pun langsung rebahan.
Puncak Basundara (dok.pri)

Langsung memejam mata? Owhh tidaakkk...hawa di puncak dingin dengan temperatur 14 derajat celcius. Saya tak mampu memejamkan mata dengan lelap, kuatir melewati saat sunrise. Jadi hanya ngulur boyok, haha...Bahasa Indonesia nya yaa rebahan gituu...

Selepas waktu subuh, saya beranjak keluar tenda. Dingin menggigit kulitku. Gemeretak gigi karena kedinginan tak kuhiraukan. Di puncak Panderman banyak yang ngecamp. Ditengah-tengah tenda yang betebaran tampak tiang bendera Merah Putih. Berjarak sejengkah ada papan bertuliskan Basundara Mt Panderman 2000 mdpl. Ya Allah akhirnya saya bisa menapak langkahku di puncak Panderman.
Banyak tenda di Puncak Panderman (dok.pri)

Panderman asal muasalnya dari nama seorang Belanda yang bernama Van Der Man. Konon dari cerita yang berkembang, dulu Van Der Man orang pertama yang bisa naik hingga puncak dan begitu menyukai view di gunung tersebut pada jamannya. Hingga nama gunung itu akhirnya berjuluk gunung Van Der Man (lidah Jawa menyebut Panderman). Hingga sampai sekarangpun bernama Gunung Panderman yang secara administratif masuk wilayah dukuh Toyomarto, Pesanggaragan, Batu.

Keindahan alamnya saya buktikan sendiri pagi itu. Masih pukul 04.45 di ketinggian 2000 mdpl, saya benar-benar takjub. Subhanallah..tak berkesudahan saya menyebut asma-MU. Allahu Akbar...sejauh mata memandang terlihat langit yang berwarna amazing. Gradasi warna yang Kau cipta sungguh sempurna.
Cantiknya gradasi lukisan Allah (dok.pri)

Jujur baru kali ini saya melihat warna langit yang demikian indah. Meski tak sampai menikmati golden sunrise tapi cukup puas mendapat picture yang luar biasa. Ya Allah terima kasih atas kemurahanMU memberi sehat pada saya. Rasanya segala dingin dan lelah semburat menguap saat melihat keajaiban sunrise di puncak Basundara yang elok.
Siluet berlatar langit yang cantik (dok.pri)

Puas jepret sana jepret sini, narsis sana narsis sini, pukul 08.00 WIB meski hanya memejam mata sekelebatan saja, kami bertiga turun. Kok bertiga? Yaa karena Mba Intas agak sakit kakinya,  sementara rehat. Sedangkan saya mengejar acara Malang Flower Carnival siang nanti. Mba Intas bersama rekan-rekan yang lain, agak siang bakal turun.

Mas Febri dkk sangat baik dan sabar. Mereka bertanggung jawab atas anggota tim yang dipandunya. Saya yang secara umur hampir kepala 5 kurang setahun pun merasa nyaman jalan bareng mereka. Perhatian dan saling membantu satu sama lain. Capek satu dan rehat, rehat semua. Tak ada rasa ingin mendahului. Kompaklah pokoknya. Bahkan sebelum turun dan berpisah, 3 temannya menawarkan jalan bareng ke Semeru. Boleh pilih sampai Ranu Kumbolo atau Summit. Hehe...kalau saya sudah 2 kali ke Rakum tapi gak bosan, kalau summit saya tahu diri dengan kemampuan. Haha....

Bertemu Banyak Kera Jinak

Saya, putriku dan Mas Febri turun. Rasanya langkah terasa ringan. Wooww ternyata baru terlihat jalan menukik yang semalam kami lewati. Tanah yang berdebu pun masih nampak beterbangan. Bekas jejak langkah pendaki yang turunpun masih tampak jelas.

Semalam yang tak nampak saat turun terpampang semua. View gunung Welirang dan gugusan gumung Putri Tidur tampak dari kejauhan. Hutan yang rimbunpun menghijau, membuat mata jadi segar. Hutan pinuspun terlewati. Pokoknya siang itu puas dan jelas. Haha...

Di sepanjang jalan turun kami menemui banyak gerombolan kera. Suaranya yang khas membuat kami melongokkan kepala mencari sumber suara. Ahaaaa...kera-kera itu bergelayutan diantara pepohonan. Kami masih memiliki bekal, giliran berbagi dengan kera-kera yang lucu. Mereka saling berebut, hehe..

Melewati pos 2 di Watu Gede. Amboiii semalam kami melewati sisi-sisinya. Buat kenang-kenangan kami pun narsis di ketinggian 1730 mdpl. Wooww gede lho batunya. Perjalanan pulang lebih santai tak berbeban. Selain jalannya turun juga beban bekal sudah habis, termasuk air minum.

Melewati kebun tebu yang tumbuh tak beraturan, Mas Febri berinisiatif untuk mengambil batang tebu. Dan kami bertiga menyesap air tebu pengganti air untuk pelepas dahaga. Wooww Mas Febri memang luar biasaaa. Saya acungi jempol dah. Sayangnya pas kita bertiga saling menggerogoti tebu, memori hp saya full jadi tak bisa mengabadikan keseruan kami yang berusaha survive di alam terbuka.

Rasanya berkesan banget perjalanan ke gunung Panderman. Hanya ada suka yang tak mungkin terlupa, meski ada acara horor-hororan. Sampai kini masih ada tanda tanya besar, siapakah seorang  penyusup saat malam di bebatuan mendekati puncak Panderman? Tapi yang pasti saya tak kapok untuk menjelajah dan mendaki gunung lagi....(15-16/9/18)












Wisata ke Kampung Coklat Blitar yang Memikat

September 16, 2018 26 Comments
Bicara tentang coklat, pasti terbayang rasanya manis dan enak. Disukai oleh semua umur dan pastinya nikmat. Hehe...kalian suka coklat? Tuh kan... pada angkat tangan semua. Tak terkecuali saya juga demen coklat.

Nah kebetulan waktu tahun baru hijriah kemarin, iya yang tanggal merah itu, saya berkesempatan ngumpul bareng sahabat-sahabat. Biasa acara pul ngumpul rutin sebulan sekali. Bisa dibilang reuni juga sih, sebab kumpulan ini adalah sahabat-sahabat saat kami dulu dibawah satu atap perusahaan kosmetik asal Amerika. Nah perusahaan itu sudah tak beroperasi di Indonesia sejak tahun 2006. Meski demikian kami semua masih tetap bersilaturahim dan guyup lho. Kami menamakan diri di WAG sebagai Alumni Avon Nasional. Pasti yang seumuran dengan saya langsung deh ingat produknya yang oke yah...
Sahabat-sahabatku waktu kami masih di Avon (dok.pri)

Dulu Avon Malang memiliki banyak leader yang tersebar dibeberapa kota di Jawa Timur. Salah satunya leader dari Blitar. Karena pertemuan kami selalu beranjangsana jadilah liburan lalu kami semua ke kota Bumi Soekarno itu. Ternyata Blitar kotanya bersih dan rapi. Tak terlihat ada kemacetan, padahal rumah sahabat kami tak jauh dari Alun-alun Blitar. Tahu kan seperti di Malang, alun-alun adalah pusat keramaian dan seringkali macet. 

Kali ini saya gak akan mengurai tentang kemacetan di Malang kok. Balik lagi ke Blitar, kami ngumpul ber- haha hihi, penyampaian info bermanfaat, makan-makan dan tak ketinggalan berselfi ria. Usai itu salah seorang dari kami mengusulksn untuk refresh ke tempat wisata. Dari beberapa yang diajukan, kami sepakat ke Kampung Coklat. Dengan pertimbangan mudah dijangkau dan tak menyita banyak waktu untuk menuju lokasi. Yaa jadilah kami semua cus ke tekape. Simak yaaa mana tahu kalian pengen juga ke Kampung Coklat..

Kampung Coklat Kampung Memikat

Lokasi Kampung Coklat tak jauh dari rumah sahabat kami. Berada di pinggir jalan poros tepatnya di jalan raya Banteng - Blorok Kademangan Blitar. Karena lokasi berada disekitar rumah penduduk, kampung Coklat ini setidaknya turut membantu ekonomi masyarakat sekitar. Mereka banyak menjual hasil kebun seperti Nanas dan buah Belimbing juga termasuk souvenir-souvenir bertuliskan Kampung Coklat.
Gerbang Kampung Coklat di Blitar (dok.pri)😚

Kampung Coklat sepintas tampak dari depan hanya seperti bangunan yang tak begitu luas. Bahkan terlihat gerbang atau bisa dibilang rumah berukuran standar. Tapi siapa sangka begitu kita masuk terlihat aslinya. Melewati jalan dengan lampu-lampu menyala (meski siang hari). Sementara disisi kanan kiri dinding terdapat frame tentang sejarah percoklatan.

Masuk agak dalam lagi ada loket tempat menjual tiket. Harga tiket masuk hanya 5ribu rupiah dan buka pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Menurut penjaga loket dihari Minggu atau libur, pengunjung Kampung Coklat padat. Lha tapi pas saya kesana sekitar pukul 14.00 terlihat sepi. Bahkan rombongan kami kurang kebih 20 orang bisa bernarsis ria di pintu masuk bertuliskan Kampung Coklat. Biasa kan kalau datang di suatu tempat yang dicari adalah spot untuk narsis. Tanpa menunggu clear tempat, langsung jepret dahh, hehe..

Ehh sepi? Ternyata kali ini saya keliru pemirsahhh...Begitu masuk gerbang bagian dalam, bukan yang pinggir jalan lho yaa...Saya rada speechless. Pasalnya begitu melangkah dari gerbang yang berpenjaga, terlhat pengunjung memenuhi hampir semua kursi yang ada di dalam area lokasi Kampung Coklat. Tampak rimbun dan adem pepohonan Coklat yang tertata rapi dan beraturan. Luas dan bersih.
Dihari Minggu atsu libur pengunjung banyak berdatangan (dok.pri)

Salah satu sudut Kampung Coklat (dok.pri)

Semakin melangkah masuk banyak spot foto yang menarik dan memikat. Ada spot bertuliskan Kampung Coklat. Juga tak ketinggalan buah coklat yang bergelantungan di batang menyembul diantara dedaunan pun jadi asyik buat bernarsis. Bukan itu saja fasilitas sebagai tempat rekreasi edukatif juga dimiliki Kampung Coklat ini. Konon di saat-saat tertentu ada edukasi tentang cara bertanam coklat hingga pembuatan coklat sebagai kudapan yang digandrungi segala usia. Tapi rupanya kami kurang beruntung, karena pas berkunjung event edukasi percoklatan tak nampak.
Buah coklat bergantungan di batang (dok.pri)


Tampak rierimbunan pohon coklat (dok.pri)

Bersyukur dan berdamai dengan hati saja yaa...hihi aslinya pengen lihat. Akhirnya kami menoleh kafe-kafe yang menawarkan minuman bergenre coklat. Harganya terjangkau hanya dengan 10K kami bisa menikmati minuman coklat yang maknyus, hehe...Rame-ramelah kami antri demi segelas coklat hangat yang mantap.

Kampung Coklat Ada Karena Kegagalan


Hidup tidak selamanya mulus. Terkadang harus melewati onak dan duri sebelum akhirnya menemukan solusinya. Seperti itu juga kisah pemilik Kampung Coklat ini. Menurut beberapa sumber yang sempat saya tanya, Kampung Coklat ini milik perorangan. Adalah Bapak Kholid Mustafa yang dulu memiliki usaha ayam potong yang sukses. Suatu saat ayam yang diternakkan terkena virus sehingga semua mati. Tentu saja beliau mengalami kerugian yang tidak sedikit. Namun beliau tak patah semangat. Sampai akhirnya berniat menanam coklat untuk dibudidayakan dengan serius

Luas kebun kakao Pak Kholid yang disulap menjadi Kampung Coklat seluas 750 m2. Dengan berbekal belajar atau magang tentang penanaman dan budidaya kokoa (coklat) di PTPN XII di Blitar dan Jember. Akhirnya bisnisnya dari peternak ayam petelor berubah haluan ke kakao.

Kemudian pada 1 Januari 2005 bersama rekan-rekanya Pak Kholid membentuk komunitas yang terdiri dari petani coklat. Komunitas itu bernama Gapoktan Guyup Santoso. Sampai tahun 2013 kelompok tani ini mampu memproduksi coklat olahan lokal dengan brand Guysant yang diambil dari nama kelompok Guyup Santosa. Dan kemudian berkembanglah dari hari ke hari smpai akhirnya Kampung Coklat dibuka sebagai tempat wisata edukasi.

Teman-teman yang ingin mengintip Kampung Coklat segera aja kesana. Banyak juga lho fasilitasnya seperti layaknya tempat wisata. Namun kelebihan yang dimiliki wisata edukasi ini adalah adanya kebun coklat yang ada ditengah-tengah wisata ini. Selain  ada beberapa kafe yang khusus menjual minuman coklat dengan berbagai varian, ada juga area permainan  anak-anak serta chocollate gallery.
Pintu masuk Chocolate Gallery (dok.pri)

Chocolate Gallery tampak ramai (dok.pri)

Chocolate Galerry ini menyediakan berbagai hasil olahan coklat. Dari coklat yang diolah sebagai minuman hingga coklat sebgai camilan yang nikmat. Harganya sangat terjangkau tergantung dari kocek kita yakni kisaran 9000 hingga 100ribuan. Kalau gak bisa nahan diri, pasti semua masuk keranjang belanja. Hehe...









Melegenda, Lodji Coffe Shop Hotel Pelangi

September 09, 2018 23 Comments
Tentang Malang. Apa yang membuatmu terpikat dengan kota sejuk ini? Coba sebut yaa, misalnya ingat Malang sebagai kota Apel, Malang banyak wisata kuliner, viewnya cakep, banyak event menarik. Semua betul, hehe.. Makanya kali ini saya ingin menulis salah satu tempat kuliner Malang yang cukup berumur. Bahkan nuansa kuno dan heritage melekat di setiap sudut-sudutnya. Yuk simak tentang jalan-jalan tipisku ke Lodji Coffe...

Kafe Lawas Bangunan Jaman Belanda

Awal masuk aura jaman kolonial Belanda masih terasa kental. Bangunannya juga kokoh dan tinggi. Pada dindingnya ada lukisan kota-kota di Belanda dengan media keramik. Sekitar 23 lukisan mengitari ruangan yang luas dan besar. Lodji Coffee Shop yang berada di Hotel Pelangi Malang menyuguhkan suasana elegant. Lodji  dalam bahasa Belanda berarti ruang besar dan luas.
Hotel Pelangi Malan

Untuk menuju Lodji Coffe sangat mudah. Dari lobby  Hotel Pelangi jalan saja lurus ke selatan. Disitulah Lodji Coffee berada. Puluhan meja dan kursi klasik ditata rapi dengan lampu gantung kuno menerangi ruang kafe. Disinilah tempat  breakfast tamu-tamu hotel. Saya langsung memilih duduk di sofa yang ada disudut ruangan kafe.

Kafe ini menjadi jujugan wisatawan mancanegara, khususnya dari Belanda.
Mereka datang untuk melihat Hotel Pelangi sebagai bangunan bergaya Belanda. Selain itu Hotel yang dibangun tahun 1915 adalah salah satu bangunan bernilai sejarah dan masuk dalam bangunan heritage yang dilindungi. Bagian yang kentara berarsitektur Belanda ada di Lodji Coffee Shop. Sembari mengenang masa lalu, mereka nongkrong dan menikmati  menu-menu yang ada. Oya Hotel Pelangi lokasinya disebelah selatan alun-alun Malang.
Lodji Coffee Shop (dok.pri)

Siang itu saya menikmati secangkir kopi dan sepiring Pisang Goreng Coklat Keju.  Kopi yang disuguhkan terpisah dengan gula dan krim dalam bentuk sachet. Kopi itu jenis lokal dan dikemas dengan nama Kopi Sidomakmur. Tapi secara detil asal dari daerah mana tidak diketahui. "Kami sudah lama berlangganan langsung dengan produsen kopi itu, " jelas seorang pramusaji kafe.

Meski hanya menyajikan kopi satu jenis saja,  tapi pelanggan tetap setia memesan kopi "sederhana" itu. Kedepan pihak manajemen hotel  menurut salah seorang pramusaji juga akan membuka semacam stand di Lodji Coffee yang menyajikan kopi berbagai jenis. "Semoga segera terealisir", harapnya.

Menjaga Cita Rasa Masakan

Selain menyediakan kopi, menu lain adalah masakan tradisional. Namun yang menjadi andalan yakni Nasi Goreng Pelangi.  Saya pun mencoba mencicipi hidangan makanan berat itu. Penampilan sajiannya sangat oke dengan piring putih artistik. Bentuk piringnya pun unik. Sementara nasi goreng dimix dengan ayam suwir,  udang dan telur. Sebagai pelengkap ada paha ayam,  telur ceplok dan krupuk berhias daun sla,  irisan tomat dan acar. Rasanya tak terlalu pedas,  bumbunya sedap dan tentu saja nikmat.
Menu andalan Lodji Coffee berlatar suasana Kafe (dok.pri)

Hotel Pelangi sangat menjaga cita rasa menu yang disajikan.  Bahkan ada garansi seandainya ada pengunjung atau tamu hotel yang komplain dengan rasa menu masakan.  Salah satu trik menjaga cita rasa yakni tetap mempertahankan cooker lama. Sehingga cita rasa masakan tetap terjaga. Tentang harga menu makanan di Lodji terjangkau bila dilihat dari list menu.

Tak berlebihan bila Hotel Pelangi yang termasuk hotel tua di Malang  masih menjadi pilihan pengunjung. Dengan jumlah kamar 75 terdiri dari tipe standar,  deluxe,  eklusif selalu penuh di weekend. Semoga dengan bergulirnya waktu Hotel Pelangi dengan Lodji Coffee Shop melegenda dan semakin dikenal wisatawan dalam dan luar negeri. Penasaran? Yuukkk jalan-jalan ke Malang...

Baju Cantik Berornamen Daur Ulang yang Unik

September 06, 2018 14 Comments
Warnanya ngejreng dan sangat menarik. Merah, Ungu, Pink, Hijau, Biru, Oranye dan lainnya membaur. Wuikkk membuat mata saya tak berkedip dan tertegun. Pasalnya baju yang dipakai model dadakan dalam pawai karnaval Agustusan yang baru lewat, bener-bener cantik dan indah.
Ibu-ibu PKK tampil keren berbalut baju daur ulang, kecuali yang kaos merah yaa...😊 (dok.pri)

Tak disangka begitu barisan lewat persis didepan saya, tenyata baju dengan ornamen-ornamen unik yang mereka pakai berbahan daur ulang. Sekilas nampak artistik dan tak menampakkan bahan aslinya. Mau tahu bahannya apa saja kan?

Bahan untuk baju atau rok yang dipakai peserta karnaval adalah barang yang bisa kita temui sehari-hari. Bahkan mungkin kalian begitu familiar karena memang ada dimana-mana, di rumah, di toko-toko, di jalan-jalan atau di mall dan warung-warung terdekat di tempat tinggalmu. Hehe...tahun ini memang karnaval dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI sangat unik, kreatif dan inovatif.

Baju Berbahan Daur Ulang yang Unik

Pernahkah kalian mengkonsumsi minuman dalam gelas plastik? Nah salah satu bahan atau ornamen untuk baju dan rok cantik ya dengan gelas-gelas plastik itu. Kemasan gelas yang berwarna cerah dan ngejreng sangat mendukung. Dengan cara  menggunting bagian atas gelas dan membelah beberapa bagian gelas kemudian dikembangkan. Dikreasi sedemikian rupa akan tampak menawan bila direkatkan pada rok. Hehe tapi untuk membuat rok cantik berornamen gelas plastik bekas tidak gampang lhoo...
Siapa sangka baju model ini memakai bahan daur ulang? (dok.pri)

Seperti model peserta karnaval ini, jauh hari mengumpulkan gelas plastik bekas minuman. Bukan untuk dijual atau dikilokan, tapi demi untuk penampilan dirinya sebagai maskot di kelompoknya. Sebut saja Ulla. Dia mengaku mengumpulkan bahan gelas plastik sebulan sebelum acara karnaval. Selain membeli minuman tersebut juga meminta tolong teman-temannya kalau mempunyai gelas plastik untuk tidak membuangnya. Alhasil saat mendekati acara karnaval, dia sudah bisa mengumpulkan kurang lebih 100 gelas dan bisa mendesainnya untuk rok kebesarannya.
Ini lho bahan daur ulang gelas plastik bekas (dok.pri)

Ada juga rok yang berornamen tutup botol. Tak kalah keren juga lho. Hehe saya sampai mendelik (baca :membelalak) untuk memastikan pentolan bulat-bulat itu adalah betul-betul tutup botol. Dengan ukuran yang sama dan warna yang beragam, tutup-tutup botol itu dibungkus kain dan ditempelkan pada rok yang sudah didesain. Perlu ketelitian dan kesabaran agar tertata warna-warnanya. Hmm...lumayan telaten ya yang menempelkannya satu-satu, hehe..
Tutup botol yang artistik (dok.pri)

Tema Daur Ulang yang Memikat

Tampaknya acara karnaval di Malang khususnya, lebih banyak mengambil tema daur ulang. Seperti di kelurahan Polehan Kecamatan Blimbing misalnya. Dari beberapa acara karnaval yang saya lihat, mengangkat tema daur ulang. Selain unik dan cantik yang pasti pengadaan bahannya tidak mahal. Bisa juga didapat dengan  gratis karena diperoleh dari hasil mengumpulkan sendiri seperti Ulla.

Yang lebih unik lagi dengan menggunakan kepingan cd (compact disk) bekas yang sudah rusak atau tidak dipakai lagi. Cd bekas dipakai untuk hiasan topi atau baju dan rok. Dari kejauhan terlihat glamour  karena berkilat-kilat tertimpa sinar matahari. Wahhh keren dan kreatif bukan ide-ide anak muda jaman now? Daripada harus beli ini itu, sewa ini itu untuk kebutuhan busana karnaval yang wah pasti mahal. Dengan menggunakan bahan daur ulang serta sentuhan kreativitas dan seni yang oke, gak kalah dengan tampilan desainer kondang kan?
Cantik dan glamour cd-cd yang tertempel dibusana peserta karnaval (dok.pri)

Saatnya sekarang mengedepankan ide-ide cemerlang. Dengan inovasi-inovasi terkini tidak menutup untuk tampil lebih keren tanpa meninggalkan nilai seni dan keindahan--meski berbahan bekas dan murah. Eh ada juga yang meronce (merangkai) kemasan kopi instan, plastik-plastik (tas kresek) termasuk tali bekas untuk desain-desain yang bagus.

Nah kalau barang-barang yang seharusnya masuk tempat sampah, karena kreativitas bisa jadi terlihat sempurna. Kalau sudah demikian beranikah kalian tampil beda dengan busana berornamen unik? Hehe...